BAB V TEORI KEPEMIMPINAN

A.     PENDAHULUAN

Berbagai jenis teori atau pendekatan yang muncul untuk mengetahui fenomena kepemimpinan. Teori-teori tersebut berbeda dari sudut pandang dan perspektifnya dalam mengamati kepemimpinan. Jika kita memandang seorang pemimpin berdasarkan karakteristik sifat-sifat yang dimilikinya, mak kita cenderung menggunakan pendekatan teori sifat (thrait theory). Jika kita memandang seorang pemimpin berdasarkan perilaku-perilaku yang dimunculkan, maka kita lebih cenderung melihat fenomena kepemimpinan dari pendekatan teori perilaku, dan seterusnya.

Teori kepemimpinan merupakan generalisasi dari perilaku pemimpin dan konsep kepemimpinannya dengan menitikberatkan pada latar belakang historis, sebab akibat, munculnya kepemimpinan, sifat-sifat utama kepemimpinan. Hal senada dikemukakan Kartono (2005:51), bahwa teori kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seni perilaku pemimpin berserta konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menampilkan latar belakang historis kemunculan pemimpin dan kepemimpinan

Untuk memahami teori kepemimpinan, akan dikemukakan beberapa teori kepemimpinan yang telah dikenal sejak lama maupun teori-teori kepemimpinan yang masih sangat baru. Hal ini didasarkan bahwa sebuah selalu berkembang seiring dengan perkembangan penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli.

B.     TEORI KEPEMIMPINAN

Sebelum membahas teori kepemimpinan, maka terlebih dahulu diberikan Batasan pengertian tentang teori itu sendiri, Batasan pengertian teori telah banyak dirumuskan oleh beberapa pakar, antara lain menurut Kerlinger (1973:14), teori adalah serangkaian konstruk (konsep), Batasan, dan proposisi, yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan fokus hubungan dengan merinci hubungan-hubungan antar variable, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksikan gejala itu. Sedangkan teori menurut Pasolong (2007:8), adalah “pernyataan atau konsep telah diuji kebenarannya melalui riset”. Jadi dengan demikian teori kepemimpinan adalah konsep-konsep kepemimpinan yang telah diuji kebenarannya melalui suatu penelitian ilmiah, maka dapat dikatakan sebagai teori kepemimpinan.

 

Teori Lahirnya Kepemimpinan

Teori dasar munculnya kepemimpinan menurut Siagian (2004), Anoraga (1995), terbagi tiga yaitu: (1) Teori Genetik, (2) Teori Sosial, dan (3) Teori Ekologis.

Teori Genetik menjelaskan bahwa kepemimpinan bahwa pimpinan tidak dibangun, tetapi seorang akan menjadi pemimpin karena bakat yang dimiliki luar biasa, atau dengan katai lain seorang menjadi pemimpin karena memang ditakdirkan menjadi pemimpin.

Teori Sosial menjelaskan bahwa pemimpin harus dibangun atau dibentuk, tidak begitu saja muncul atau ditakdirkan. Jadi seorang menjadi pemimpin karena melalui proses Pendidikan dan pelatihan yang cukup mendukung.

Teori Ekologis menjelaskan bahwa merupakan gabungan dari teori genetik dan teori sosial. Teori berasumsi bahwa seseorang sukses menjadi pemimpin, jika sejak lahir mempunyai bakat-bakat kepemimpinan, kemudian dikembangkan melalui Pendidikan dan pengalaman serta disesuaikan dengan lingkungan.

Jenis-jenis teori kepemimpinan sangat variative dikemukakan dalam berbagai literatur. Misalnya Salsusu (1996:198-201), membagi teori kepemimpinan sebanyak 8 (delapan) jenis yaitu: (1) Teori-teori besar (Great-Man Theories), (2) Teori Sifat (Trait Theories)), (3) Teori Lingkungan (Envinment Theories), (4) Teori Situasional-pribadi (Personal-Situational Theories), (5) Teori Psikoanalitik (Psychoanalityc Theories), (6) Teori Antispasi-interaksi (Interaction-Expection Theories), (7) Teori-teori Manusiawi (Humanistic Theories), dan (8) Teori Pertukaran (Exchange Theories). Hal senada dikemukakan Winardi (2000:62-68), bahwa teori kepemimpinan terbagi 8 (delapan), yaitu: (1) Teori otokratis, (2) Teori Psikologis, (3) Teori Sosiologis, (4) Suportif, (5) Teori Laissez-Faire, (6) Teori Kelakuan Pribadi, (7) Teori Sifat dan (8) Teori Situasi. Sedangkan Wirajan dan Susilo Supardo (2006:16-17), hanya membagi dua teori kepemimpinan, yaitu: (1) Teori kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadershio) dan (2) Teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership).

Pada dasarnya untuk mengetahui teori-teori kepemimpinan dapat ditelusuri dalam berbagai literatur yang telah membahas tentang hal tersebut. Dalam literatur dapat diketahui bahwa ada teori yang menyatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dipelajari atau dibentuk. Di sisi lain ada yang mengatakan bahwa pemimpin itu dipelajari atau dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang sudah dilewati. Akan tetapi ada teori yang mengatakan bahwa pemimpin itu ada karena kondisi yang memungkinkan ada. Teori yang paling trend yaitu melihat kepemimpinan melalui perilaku organisasi. Orientasi perilaku mencoba untuk menampilkan pendekatan yang bersifat “social learning” dalam proses pemimpin dan kepemimpinan. Teori perilaku pada dasarnya menekankan bahwa terdapat beberapa faktor yang menentukan timbulnya timbal balik dalam kepemimpinan. Factory yang berpengaruh terhadap kepemimpinan yaitu pemimpin itu sendiri, situasi lingkungan. Teori kepemimpinannya merupakan generalisasi dari perilaku pemimpin dan konsep kepemimpinannya dengan menitikberatkan pada latar belakang historis, sebab musabab, munculnya kepemimpinan, sifat-sifat utama kepemimpinan. Hal senada dikemukakan Kartono (2005:51), bahwa teori kepemimpinan adalah menggeneralisasikan satu seni perilaku pemimpin berserta konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menampilkan latar belakang historis kemunculan pemimpin dan kepemimpinan.

Teori-teori kepemimpinan modern yang banyak mendapat perhatian sekarang ini, telah didahului oleh penemu-penemu teori klasik kepemimpinan. Studi kepemimpinan telah menarik perhatian para akademisi maupun para praktisi dalam sepanjang sejarah, bahwa ditemukan adanya pemimpin yang efektif dan pemimpin yang tidak efektif. Oleh karena itu, kepemimpinan menarik perhatian para ahli untuk dibahas dan diteliti. Adapun teori kepemimpinan dapat dibagi dua kelompok yaitu (1) teori kepemimpinan klasik dan (2) teori kepemimpinan modern:

 

Kelompok Kepemimpinan Klasik

1.      Kepemimpinan Model Taylor (1911)

Taylor sebagai ahli Teknik mesin sekaligus sebagai bapak Manajemen Ilmiah (father of scientific Management) menemukan gaya kepemimpinan dalam memimpin perusahaan sebagai berikut: (a) Cara terbaik untuk meningkatkan hasil kerja adalah dengan meningkatkan Teknik atau metode kerja, dampaknya adalah manusia dianggap sebagai mesin, (b) Manusia untuk manajemen, bukan manajemen untuk manusia, (c) Fungsi manajemen menurut teori manajemen ilmiah (teori klasik) adalah menetapkan kriteria prestasi untuk mencapai tujuan, dan (d) Fokus pemimpin adalah berada pada pertumbuhan perusahaan.

2.      Kepemimpinan Model Mayo (1920)

Kepemimpinan model Mayo sangat terkenal dengan Gerakan hubungan manusiawi yang merupakan reaksi revisi kepemimpinan Taylor yang memperlakukan manusia sebagai mesin. Dampaknya adalah banyak pegawai yang sakit, bercerai, kacau balau karena hidupnya hanya untuk bekerja lupa makan, dan keluarga, Mayo berpendapat bahwa adalah memimpin: (a) selain mencari Teknik atau metode kerja terbaik juga harus memperhatikan perasaan dan hubungan manusiawi yang baik, (b) pusat-pusat kekuasaan adalah hubungan pribadi dalam unit-unit kerja, (c) fungsi pemimpin adalah memudahkan pencapaian tujuan kelompok secara kooperatif dan mengembangkan kepribadiannya.

3.      Studi Iowa (1930)

Penelitian kepemimpinan mula-mula dilakukan oleh Lippit & White pada tahun 1930 dibawah pemimpin Lewin dan Universitas Iowa, Penelitian ini berpengaruh terhadap penelitian-penelitian berikutnya. Dalam penelitiannya Lewin, et al (1981) meneliti tiga klub anak-anak berumur 10 tahun. Setiap klub diminta memainkan peran tiga gaya kepemimpinan yaitu otoriter, demokratis, dan Laize faire (gaya bebas). Pemimpin yang otoriter bertindak sangat direktif, selalu mengarahkan, dan tidak memberikan kesempatan bertanya apalagi membantah. Bahwa harus patuh pada perintah atasan tanpa membantah. Pemimpin demokratis mendorong kelompok untuk berdiskusi, berpartisipasi, menghargai pendapat orang lain siap berbeda dan perbedaan tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk didapatkan hikmahnya. Pemimpin demokratis mencoba untuk bersikap objektif dalam memuji dan mengeritik. Pemimpin Laize faire memberikan kebebasan mutlak kepada kelompok. Penelitian menemukan bahwa 19 anak dari 20 anak sangat suka kepada kepemimpinan demokratis dan hanya 1 orang anak sangat senang dengan gaya kepemimpinan otoriter mungkin karena anak tersebut anak seorang militer.

4.      Studi Ohio (1945)

Biro penelitian Bisnis Universitas Negeri Ohio melakukan serangkaian penelitian dibidang kepemimpinan. Suatu tim penelitian interdisiplin seperti psikologi, sosiologi, dan ekonomi mengembangkan angket yang disebut angket Deskripsi Perilaku Pemimpin (the Leader Behavior Descirption Quetionnaire :LBDQ). Kuesioner ini mendapatkan data kepemimpinan dalam berbagai unit kerj Stogdili & Coons (1957). Tim peneliti merumuskan kepemimpinan sebagai suatu perilaku seorang yang mengarah pada pencapaian tujuan tertentu yang terdiri dari, yaitu (1) pembuatan inisiatif (initiating structure) dan perhatian (consideration). Struktur pembuatan inisiatif menunjukkan bahwa perilaku pemimpin berorientasi pada pencapaian tugas. Sedangkan perhatian menunjukkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada hubungan manusiawi kepada bawahannya. Penelitian ohio merupakan empat gaya, yaitu (1) Struktur rendah perhatian tinggi, (2) Struktur tinggi perhatian tinggi, (3) Struktur tinggi perhatian rendah, dan (4) Struktur rendah perhatian rendah.

5.      Studi Michigan (1947)

Pusat penelitia Survei University of Michigan (1947), melakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan prinsip-prinsip yang mempengaruhi produktivitas kelompok dan kepuasan anggota kelompok yang diperoleh dari partisipasi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan pada seksi produksi lebih menyukai: (1) menerima pengawasan dari pengawas-pengawas mereka yang bersifat terbuka dibandingkan yang terlalu ketat, (2) sejumlah otoritas dan tanggung jawab atas yang ada dalam pekerjaan mereka, (3) memberikan pengawasan terbuka pada bawahnya dibandingkan pengawasan yang ketat, dan (4) berorientasi pada pekerja daripada produksi. Penelitian ini mengajukan dua gaya kepemimpinan, yaitu: (1) berorientasi pada bawahan dan berorientasi pada produksi. Pemimpin yang berorientasi pada bawahan menekankan pentingnya hubungan dengan pekerja dan menganggap setiap pekerja penting, diperhatikan minatnya, diterima keberadaannya dan dipenuhi kebutuhannya, pemimpin yang berorientasi pada produksi menekankan pentingnya alat untuk mencapai tujuan organisasi. Kedua orientasi ini paralel dengan gaya kepemimpinan demokratis dan otoriter dalam konsep perilaku komitmen dari Tannenbaum-Schmit.

               Kelompok Kepemimpinan Modern

1.      Teori Sifat (Traits Theory).

Teori sifat (trait theory) berasumsi bahwa seseorang yang dilahirkan sebagai pimpinan karena memiliki sifat-sifat sebagai pemimpin. Namun pandangan teori sifat ini juga tidak memungkiri bahwa sifat-sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan, tetapi dapat juga dicapai lewat suatu Pendidikan dan pengalaman.

Yukl (1994:10), mengatakan bahwa pendekatan Trait menekankan pada atribut-atribut pribadi dari para pemimpin. Dasar dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa beberapa orang merupakan pemimpin alamiah yang dianugerahi dengan beberapa ciri yang tidak dipunyai orang lain. Teori-teori kepemimpinan ini mengatakan bahwa keberhasilan manajerial dipengaruhi oleh dimilikinya kemampuan-kemampuan yang luar biasa seperti misalnya energi yang tidak habis-habisnya, intuisi yang dalam pandangan masa depan yang luar biasa dan kekuasaan persuasif yang tidak tertahankan.

Teori sifat telah berusaha menggeneralisasikan sifat-sifat yang dimiliki oleh pemimpin seperti: fisik, mental, dan kepribadian. Dengan asumsi bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh kualitas sifat atau karakteristik tertentu yang dimiliki atau melekat dalam diri pemimpin tersebut, baik berhubungan dengan fisik, mental, psikologi, personalitas dan intelektualitas. Sifat yang perlu dimiliki oleh pemimpin yang sukses antara lain: taqwa, sehat, cakap jujur, tegas cerdik, berani intelek, disiplin, manusiawi, bijaksana, energik, percaya diri, berjiwa besar, adil, motivasi tinggi, berwawasan luas, komunikatif, daya nalar, daya tanggap, kreatif, penuh tanggung jawab, dan Need Acievement (N-Ach).

2.      Teori Kelompok

Teori kelompok beranggapan bahwa, supaya kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya, harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Penelitian psikologi sosial dapat digunakan untuk mendukung konsep-konsep peranan dan pertukaran yang diterapkan dalam kepemimpinan. Sebagai tambahan, hasil asli penemuan unversitas Ohio, dan hasil penemuan-penemuan berikutnya beberapa tahun kemudian, terutama dimensi pemberian perhatian kepada para pengikut, dapat dikatakan memberikan dukungan yang positif terhadap perspektif teori kelompok ini. Suatu hasil penelitian ulang oleh Allan (1976) yang sempurna menunjukkan bahwa para pemimpin yang memperhitungkan dan membantu pengikut-pengikutnya mempunyai pengaruh yang positif terhadap sikap, kepuasan, dan pelaksanaan kerja, dalam Thaha (2007:289).

Hasil penelitian Barrow (1976) menemukan bahwa produktivitas kelompok mempunyai pengaruh yang lebih beda terhadap gaya kepemimpinan dibandingkan dengan pengaruh gaya kepemimpinan terhadap produktivitas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa para bawahan dapat mempengaruhi perilaku pemimpin, sebanyak pemimpin berserta perilakunya mempengaruhi bawahannya. Sudah barang tentu hal ini semuanya merupakan anggapan dari pemahaman “sosial learning”.

3.      Teori Situasional atau Kontingensi

Teori ini berasumsi bahwa kinerja suatu kelompok tergantung pada interaksi antara gaya kepemimpinan dan kesesuaian antara situasi (situasional favorableness). Kepemimpinan dipandang sebagai hubungan yang didasarkan atas pengaruh dan kekuasaan. Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam teori ini yaitu: (1) Bagaimana seorang pemimpin mempunyai kekuasaan akan menjadi efektif dan faktor-faktor situasi yang sesuai, (2) Sejauh mana Gaya kepemimpinan perilaku dan kinerja bawahan, Fiedlerb (1967), Mengatakan bahwa kepemimpinan yang berhasil, tergantung pada penerapan gaya pemimpin terhadap tuntutan situasi. Adair (1984) Pendekatan Situasional menyatakan bahwa kejadian-kejadian besar adalah produk dari kekuatan-kekuatan historis yang akan menjadikan seorang pemimpin spesifik hadir atau tidak. Teori situasional dan kontingensi mencoba mengembangkan kepemimpinan sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Dalam pandangan ini, hanya pemimpin yang mengetahui situasi dan kebutuhan organisasilah yang dapat menjadi pemimpin yang efektif. Teori situasional kontingensi terbagi: (1) Teori Path-Goal (Jalan Tujuan), (2) Teori situasional dari Hersey dan Blanchard, dan (3) Teori Kontingensi dari Fielder. Teori Path-Goal tentang kepemimpinan telah dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja para bawahan. Setelah adanya nonsituasional awal oleh Evans (1970), House (1971), Fulk & Wendler (1982), dalam Yukl (1994:241), kemudian memformulasi sebuah versi lebih terperinci dari teori tersebut memasukkan variable-variabel situasional. Teori Path-Goal diperhalus dan diperluas oleh beberapa penulis Evans (1974), Fulk & Wendler (1982). Menurut House (1971:324), dalam Yukl (1998), “Fungsi memotivasi dari pemimpin tersebut terdiri atas bertambahnya keuntungan (payoff) pribadi para bawahan bagi pencapaian kerja tujuan dan membuka jalan agar keuntungan tersebut menjadi lebih mudah dijalankan dengan memperjelasnya, mengurangi halangan-halangan dan perangkap-perangkap dia jalan serta meningkatkan peluang bagi kepuasan pegawai terhadap pemimpin tersebut”. House & Dessler (1974:13), mengatakan bahwa “perilaku pemimpin merupakan sumber kepuasan yang segera atau sebagai suatu bagian kepuasan di masa datang”. Teori path-Goal  telah mengarah pada pengembangan dari dua proposisi penting menurut Gibson (1997), Pertama perilaku pemimpin efektif sejauh mana bawahan mempersepsikan perilaku tersebut sebagai sumber kepuasan langsung atau sebagai sarana bagi kepuasan di masa mendatang. Kedua Perilaku pemimpin bersifat motivasional sejauh mana memberikan kepuasan dari kebutuhan bawahan yang kontingensi pada prestasi efektif dan melengkapi lingkungan bawahan dengan memberikan bimbingan, kejelasan arah, dan penghargaan yang dibutuhkan untuk prestasi efektif.

4.      Teori Jalan kecil-Tujuan (Path-Goal Theory) Versi House (1974)

Teori Jalan Kecil-Tujuan berasumsi bahwa dengan perilaku kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi, kepuasan, dan kinerja par pengikut. Teori Jalan Kecil-Tujuan versi House, memasukkan empat tipe atau gaya utama kepemimpinan, Yaitu (1) Kepemimpinan direktif, yaitu gaya ini sama dengan otokratis dari Lippit dan White. Bawahan tahu dengan pasti apa yang diharapkan darinya dan pengarahan yang khusus dari pemimpin, (2) Kepemimpinan yang mendukung (Supportive Leadership), yaitu pemimpin mempunyai kesediaan untuk menjelaskan sendiri, bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian yang tinggi terhadap bawahannya, (3) Kepemimpinan yang berorientasi pada hasil, yaitu: gaya kepemimpinan ini menetapkan serangkaian tujuan yang menantang para bawahannya untuk berpartisipasi. Pemimpin juga memberikan keyakinan bahwa mereka mampu melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan secara baik.

5.      Teori Perilaku (behavior theory)

Teori perilaku (behavior theory) dilandasi pemikiran, bahwa kepemimpinan merupakan interaksi antara pemimpin dengan pengikut, dan dalam interaksi pengikutlah yang menganalisis dan mempersepsi apakah menerima atau menolak pengaruh dari pemimpinnya. Pendekatan perilaku menghasilkan dua orientasi perilaku pemimpin yaitu: (1) Pemimpin yang berorientasi pada tugas (task orientation) atau mengutamakan penyelesaian tugas dan (2) Perilaku pemimpin yang berorientasi pada orang (people orientation) atau yang mengutamakan hubungan manusiawi. Pemimpin yang berorientasi pada tugas menampilkan gaya kepemimpinan otokratik, sedangkan perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan kemanusiaan menampilkan gaya demokratis. Gaya kepemimpinan demokratik mendorong bawahan untuk menentukan kebijakan sendiri, memberikan pandangan tentang langkah dan hasil yang diperoleh, memberi kebebasan untuk memulai tugas, mengembangkan insiatif, memelihara komunikasi dan interaksi yang luas, menerapkan hubungan suportif. Sedangkan gaya kepemimpinan otokratik mempunyai ciri antara lain: menentukan kebijakan untuk anggota, memberi bawahan, memberi tugas secara instruktif, menetapkan Langkah-langkah yang harus dilakukan bawahan, mengendalikan secara ketat pelaksanaan tugas, interaksi dengan anggota terbatas, tidak mengembangkan insiatif bawahan.

6.      Teori Karismatik

Pada dasarnya karisma berasal kata Yunani yang berarti “Karunia dari Ilahi” (divinely insprired gift) seperti kemampuan melakukan Mujizat atau memprediksi peristiwa di masa mendatang. Ahli sosilogi Max Weber  (1947) dalam Yukl (1998:268), telah menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan sebuah bentuk pengaruh yang didasarkan bukan atas tradisi atau kewenangan, namun atas persepsi para pengikut bahwa pemimpin tersebut dikaruniakan dengan kemampuan-kemampuan yang luar biasa. Menurut Weber karisma terjadi bila mana terdapat suatu krisis sosial, yang pada krisis itu, seorang pemimpin dengan kemampuan pribadi yang luar biasa tampil dengan sebuah visi yang radikal yang memberi suatu pemecahan terhadap krisis tersebut, dan pemimpin menarik perhatian para pengikut yang percaya pada visi itu dan merasakan bawah pemimpin tersebut sangat luar biasa.

House (1977), mengajukan sebuah teori untuk menjelaskan kepemimpinan karismatik dalam hubungannya dengan sejumlah dalil yang dapat diuji yang menyangkut proses-proses yang dapat diobservasi bukunya berdasarkan atas hasil-hasil penemuan dari berbagai disiplin ilmu sosial. Ia mengidentifikasi bagaimana para pemimpin karismatik berperilaku, bagaimana mereka berbeda dari orang lain, serta dalam kondisi yang bagaimana mereka memperoleh banyak kemungkinan untuk berkembang. Dimasukkannya ciri-ciri, perilaku, pengaruh serta kondisi situasional dan seseorang pemimpin membuat teori ini lebih komprehensif dalam wawasannya dari pada kebanyakan teori-teori kepemimpinan sebelumnya. Menurut House, seorang pemimpin karismatik mempunyai dampak yang dalam dan terhadap pengikut mereka merasakan bahwa keyakinan-keyakinan pemimpin tersebut adalah benar, mereka tunduk kepada pemimpin dengan senang hati, mereka merasa sayang terhadap pemimpin tersebut, mereka terlibat emosional dalam misi kelompok atau organisasi tersebut, mereka percaya bahwa mereka dapat memberi kontribusi terhadap keberhasilan misi tersebut, dan mereka mempunyai tujuan-tujuan kinerja tinggi.

Pemimpin karismatik pada umumnya dapat dilihat dari ciri-ciri yang ditampilkan sebagai berikut: (1) Memilik visi, misi, sasaran, tujuan dan program-program kerja yang jelas. (2) Selalu konsisten dan fokus terhadap suatu permasalahan, sehingga penyelesaian masalahnya tanpa masalah. (3) Selalu mengkomunikasikan visi dan misi dengan efektif, sehingga pencapaian tujuannya juga efektif dan efisien, dan (4) Mengetahui kelemahan-kelemahan, kekuatan-kekuatan, dan manfaatnya.








 


Komentar