BAB V TEORI KEPEMIMPINAN
A.
PENDAHULUAN
Berbagai jenis teori atau pendekatan yang muncul
untuk mengetahui fenomena kepemimpinan. Teori-teori tersebut berbeda dari sudut
pandang dan perspektifnya dalam mengamati kepemimpinan. Jika kita memandang
seorang pemimpin berdasarkan karakteristik sifat-sifat yang dimilikinya, mak
kita cenderung menggunakan pendekatan teori sifat (thrait theory). Jika
kita memandang seorang pemimpin berdasarkan perilaku-perilaku yang dimunculkan,
maka kita lebih cenderung melihat fenomena kepemimpinan dari pendekatan teori perilaku,
dan seterusnya.
Teori kepemimpinan merupakan generalisasi dari
perilaku pemimpin dan konsep kepemimpinannya dengan menitikberatkan pada latar
belakang historis, sebab akibat, munculnya kepemimpinan, sifat-sifat utama
kepemimpinan. Hal senada dikemukakan Kartono (2005:51), bahwa teori
kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seni perilaku pemimpin berserta
konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menampilkan latar belakang historis
kemunculan pemimpin dan kepemimpinan
Untuk memahami teori kepemimpinan, akan
dikemukakan beberapa teori kepemimpinan yang telah dikenal sejak lama maupun
teori-teori kepemimpinan yang masih sangat baru. Hal ini didasarkan bahwa
sebuah selalu berkembang seiring dengan
perkembangan penelitian yang telah
dilakukan oleh para ahli.
B.
TEORI
KEPEMIMPINAN
Sebelum membahas teori kepemimpinan, maka terlebih
dahulu diberikan Batasan pengertian tentang teori itu sendiri, Batasan pengertian
teori telah banyak dirumuskan oleh beberapa pakar, antara lain menurut Kerlinger
(1973:14), teori adalah serangkaian konstruk (konsep), Batasan, dan
proposisi, yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan fokus
hubungan dengan merinci hubungan-hubungan antar variable, dengan tujuan
menjelaskan dan memprediksikan gejala itu. Sedangkan teori menurut Pasolong (2007:8), adalah
“pernyataan atau konsep telah diuji kebenarannya melalui riset”. Jadi dengan
demikian teori kepemimpinan adalah konsep-konsep kepemimpinan yang telah diuji
kebenarannya melalui suatu penelitian ilmiah, maka dapat dikatakan sebagai
teori kepemimpinan.
Teori Lahirnya Kepemimpinan
Teori dasar munculnya kepemimpinan menurut Siagian
(2004), Anoraga (1995), terbagi tiga yaitu: (1) Teori Genetik, (2)
Teori Sosial, dan (3) Teori Ekologis.
Teori Genetik menjelaskan bahwa kepemimpinan bahwa pimpinan tidak dibangun, tetapi
seorang akan menjadi pemimpin karena bakat yang dimiliki luar biasa, atau
dengan katai lain seorang menjadi pemimpin karena memang ditakdirkan menjadi
pemimpin.
Teori Sosial menjelaskan bahwa pemimpin harus dibangun atau dibentuk, tidak begitu saja
muncul atau ditakdirkan. Jadi seorang menjadi pemimpin karena melalui proses
Pendidikan dan pelatihan yang cukup mendukung.
Teori Ekologis menjelaskan bahwa merupakan gabungan dari teori genetik dan teori sosial.
Teori berasumsi bahwa seseorang sukses menjadi pemimpin, jika sejak lahir
mempunyai bakat-bakat kepemimpinan, kemudian dikembangkan melalui Pendidikan
dan pengalaman serta disesuaikan dengan lingkungan.
Jenis-jenis teori
kepemimpinan sangat variative dikemukakan dalam berbagai literatur. Misalnya Salsusu
(1996:198-201), membagi teori kepemimpinan sebanyak 8 (delapan) jenis
yaitu: (1) Teori-teori besar (Great-Man Theories), (2) Teori Sifat (Trait
Theories)), (3) Teori Lingkungan (Envinment Theories), (4) Teori
Situasional-pribadi (Personal-Situational Theories), (5) Teori
Psikoanalitik (Psychoanalityc Theories), (6) Teori Antispasi-interaksi (Interaction-Expection
Theories), (7) Teori-teori Manusiawi (Humanistic Theories), dan (8)
Teori Pertukaran (Exchange Theories). Hal senada dikemukakan Winardi (2000:62-68),
bahwa teori kepemimpinan terbagi 8 (delapan), yaitu: (1) Teori otokratis, (2) Teori
Psikologis, (3) Teori Sosiologis, (4) Suportif, (5) Teori Laissez-Faire, (6)
Teori Kelakuan Pribadi, (7) Teori Sifat dan (8) Teori Situasi. Sedangkan Wirajan
dan Susilo Supardo (2006:16-17), hanya membagi dua teori kepemimpinan,
yaitu: (1) Teori kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadershio) dan
(2) Teori Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership).
Pada dasarnya untuk
mengetahui teori-teori kepemimpinan dapat ditelusuri dalam berbagai literatur
yang telah membahas tentang hal tersebut. Dalam literatur dapat diketahui bahwa
ada teori yang menyatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dipelajari atau
dibentuk. Di sisi lain ada yang mengatakan bahwa pemimpin itu dipelajari atau
dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang sudah dilewati. Akan tetapi ada teori
yang mengatakan bahwa pemimpin itu ada karena kondisi yang memungkinkan ada.
Teori yang paling trend yaitu melihat kepemimpinan melalui perilaku organisasi.
Orientasi perilaku mencoba untuk menampilkan pendekatan yang bersifat “social
learning” dalam proses pemimpin dan kepemimpinan. Teori perilaku pada
dasarnya menekankan bahwa terdapat beberapa faktor yang menentukan timbulnya timbal balik dalam
kepemimpinan. Factory yang berpengaruh terhadap kepemimpinan yaitu pemimpin itu
sendiri, situasi lingkungan. Teori kepemimpinannya merupakan generalisasi dari
perilaku pemimpin dan konsep kepemimpinannya dengan menitikberatkan pada latar
belakang historis, sebab musabab, munculnya kepemimpinan, sifat-sifat utama
kepemimpinan. Hal senada dikemukakan Kartono (2005:51), bahwa teori
kepemimpinan adalah menggeneralisasikan satu seni perilaku pemimpin berserta
konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menampilkan latar belakang historis
kemunculan pemimpin dan kepemimpinan.
Teori-teori kepemimpinan
modern yang banyak mendapat perhatian sekarang ini, telah didahului oleh
penemu-penemu teori klasik kepemimpinan. Studi kepemimpinan telah menarik
perhatian para akademisi maupun para praktisi dalam sepanjang sejarah, bahwa
ditemukan adanya pemimpin yang efektif dan pemimpin yang tidak efektif. Oleh
karena itu, kepemimpinan menarik perhatian para ahli untuk dibahas dan
diteliti. Adapun teori kepemimpinan dapat dibagi dua kelompok yaitu (1) teori kepemimpinan
klasik dan (2) teori kepemimpinan modern:
Kelompok
Kepemimpinan Klasik
1.
Kepemimpinan
Model Taylor (1911)
Taylor sebagai ahli Teknik mesin sekaligus sebagai
bapak Manajemen Ilmiah (father of scientific Management) menemukan gaya
kepemimpinan dalam memimpin perusahaan sebagai berikut: (a) Cara terbaik untuk
meningkatkan hasil kerja adalah dengan meningkatkan Teknik atau metode kerja,
dampaknya adalah manusia dianggap sebagai mesin, (b) Manusia untuk manajemen,
bukan manajemen untuk manusia, (c) Fungsi manajemen menurut teori manajemen
ilmiah (teori klasik) adalah menetapkan kriteria prestasi untuk mencapai
tujuan, dan (d) Fokus pemimpin adalah berada pada pertumbuhan perusahaan.
2.
Kepemimpinan
Model Mayo (1920)
Kepemimpinan model Mayo sangat terkenal dengan
Gerakan hubungan manusiawi yang merupakan reaksi revisi kepemimpinan Taylor yang
memperlakukan manusia sebagai mesin. Dampaknya adalah banyak pegawai yang
sakit, bercerai, kacau balau karena hidupnya hanya untuk bekerja lupa makan,
dan keluarga, Mayo berpendapat bahwa adalah memimpin: (a) selain mencari Teknik
atau metode kerja terbaik juga harus memperhatikan
perasaan dan hubungan manusiawi yang baik, (b) pusat-pusat kekuasaan adalah
hubungan pribadi dalam unit-unit kerja, (c) fungsi pemimpin adalah memudahkan
pencapaian tujuan kelompok secara kooperatif dan mengembangkan kepribadiannya.
3.
Studi
Iowa (1930)
Penelitian kepemimpinan mula-mula dilakukan oleh
Lippit & White pada tahun 1930 dibawah pemimpin Lewin dan Universitas Iowa,
Penelitian ini berpengaruh terhadap penelitian-penelitian berikutnya. Dalam
penelitiannya Lewin, et al (1981) meneliti tiga klub anak-anak berumur 10
tahun. Setiap klub diminta memainkan peran tiga gaya kepemimpinan yaitu
otoriter, demokratis, dan Laize faire (gaya bebas). Pemimpin yang
otoriter bertindak sangat direktif, selalu mengarahkan, dan tidak memberikan
kesempatan bertanya apalagi membantah. Bahwa harus patuh pada perintah atasan
tanpa membantah. Pemimpin demokratis mendorong kelompok untuk berdiskusi, berpartisipasi,
menghargai pendapat orang lain siap berbeda dan perbedaan tidak untuk
dipertentangkan, tetapi untuk didapatkan hikmahnya. Pemimpin demokratis mencoba
untuk bersikap objektif dalam memuji dan mengeritik. Pemimpin Laize faire memberikan
kebebasan mutlak kepada kelompok. Penelitian menemukan bahwa 19 anak dari 20
anak sangat suka kepada kepemimpinan demokratis dan hanya 1 orang anak sangat
senang dengan gaya kepemimpinan otoriter mungkin karena anak tersebut anak
seorang militer.
4.
Studi
Ohio (1945)
Biro penelitian Bisnis Universitas Negeri Ohio
melakukan serangkaian penelitian dibidang kepemimpinan. Suatu tim penelitian
interdisiplin seperti psikologi, sosiologi, dan ekonomi mengembangkan angket
yang disebut angket Deskripsi Perilaku Pemimpin (the Leader Behavior Descirption
Quetionnaire :LBDQ). Kuesioner ini mendapatkan data kepemimpinan dalam
berbagai unit kerj Stogdili & Coons (1957). Tim peneliti merumuskan kepemimpinan
sebagai suatu perilaku seorang yang mengarah pada pencapaian tujuan tertentu
yang terdiri dari, yaitu (1) pembuatan inisiatif (initiating structure)
dan perhatian (consideration). Struktur pembuatan inisiatif menunjukkan
bahwa perilaku pemimpin berorientasi pada pencapaian tugas. Sedangkan perhatian
menunjukkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada hubungan manusiawi kepada
bawahannya. Penelitian ohio merupakan empat gaya, yaitu (1) Struktur rendah
perhatian tinggi, (2) Struktur tinggi perhatian tinggi, (3) Struktur tinggi
perhatian rendah, dan (4) Struktur rendah perhatian rendah.
5.
Studi Michigan
(1947)
Pusat penelitia Survei University of Michigan
(1947), melakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan prinsip-prinsip
yang mempengaruhi produktivitas kelompok dan kepuasan anggota kelompok yang
diperoleh dari partisipasi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan pada seksi produksi
lebih menyukai: (1) menerima pengawasan dari pengawas-pengawas mereka yang bersifat terbuka
dibandingkan yang terlalu ketat, (2) sejumlah otoritas dan tanggung jawab atas
yang ada dalam pekerjaan mereka, (3) memberikan pengawasan terbuka pada
bawahnya dibandingkan pengawasan yang ketat, dan (4) berorientasi pada pekerja
daripada produksi. Penelitian ini mengajukan dua gaya kepemimpinan, yaitu: (1) berorientasi
pada bawahan dan berorientasi pada produksi. Pemimpin yang berorientasi pada
bawahan menekankan pentingnya hubungan dengan pekerja dan menganggap setiap pekerja
penting, diperhatikan minatnya, diterima keberadaannya dan dipenuhi kebutuhannya,
pemimpin yang berorientasi pada produksi menekankan pentingnya alat untuk
mencapai tujuan organisasi. Kedua orientasi ini paralel dengan gaya
kepemimpinan demokratis dan otoriter dalam konsep perilaku komitmen dari
Tannenbaum-Schmit.
Kelompok
Kepemimpinan Modern
1.
Teori
Sifat (Traits Theory).
Teori sifat (trait theory) berasumsi bahwa
seseorang yang dilahirkan sebagai pimpinan karena memiliki sifat-sifat sebagai
pemimpin. Namun pandangan teori sifat ini juga tidak memungkiri bahwa sifat-sifat kepemimpinan tidak
seluruhnya dilahirkan, tetapi dapat juga dicapai lewat suatu Pendidikan dan
pengalaman.
Yukl (1994:10), mengatakan bahwa pendekatan Trait menekankan pada atribut-atribut
pribadi dari para pemimpin. Dasar dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa
beberapa orang merupakan pemimpin alamiah yang dianugerahi dengan beberapa ciri
yang tidak dipunyai orang lain. Teori-teori kepemimpinan ini mengatakan bahwa keberhasilan manajerial
dipengaruhi oleh dimilikinya kemampuan-kemampuan yang luar biasa seperti
misalnya energi yang tidak habis-habisnya, intuisi yang dalam pandangan masa
depan yang luar biasa dan kekuasaan persuasif yang tidak tertahankan.
Teori sifat telah berusaha menggeneralisasikan
sifat-sifat yang dimiliki oleh pemimpin seperti: fisik, mental, dan kepribadian.
Dengan asumsi bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh kualitas
sifat atau karakteristik tertentu yang dimiliki atau melekat dalam diri pemimpin
tersebut, baik berhubungan dengan fisik, mental, psikologi, personalitas dan
intelektualitas. Sifat yang perlu dimiliki oleh pemimpin yang sukses antara
lain: taqwa, sehat, cakap jujur, tegas cerdik, berani intelek, disiplin, manusiawi, bijaksana,
energik, percaya diri, berjiwa besar, adil, motivasi tinggi, berwawasan luas, komunikatif,
daya nalar, daya tanggap, kreatif, penuh tanggung jawab, dan Need Acievement
(N-Ach).
2.
Teori
Kelompok
Teori kelompok beranggapan bahwa, supaya kelompok
bisa mencapai tujuan-tujuannya, harus terdapat suatu pertukaran yang positif di
antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Penelitian psikologi sosial dapat
digunakan untuk mendukung konsep-konsep peranan dan pertukaran yang diterapkan
dalam kepemimpinan. Sebagai tambahan, hasil asli penemuan unversitas Ohio, dan
hasil penemuan-penemuan berikutnya beberapa tahun kemudian, terutama dimensi
pemberian perhatian kepada para pengikut, dapat dikatakan memberikan dukungan
yang positif terhadap perspektif teori kelompok ini. Suatu hasil penelitian
ulang oleh Allan (1976) yang sempurna menunjukkan bahwa para pemimpin yang
memperhitungkan dan membantu pengikut-pengikutnya mempunyai pengaruh yang
positif terhadap sikap, kepuasan, dan pelaksanaan kerja, dalam Thaha (2007:289).
Hasil penelitian Barrow (1976) menemukan
bahwa produktivitas kelompok mempunyai pengaruh yang lebih beda terhadap gaya
kepemimpinan dibandingkan dengan pengaruh gaya kepemimpinan terhadap
produktivitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para bawahan
dapat mempengaruhi perilaku pemimpin, sebanyak pemimpin berserta perilakunya mempengaruhi
bawahannya. Sudah barang tentu hal ini semuanya merupakan anggapan dari
pemahaman “sosial learning”.
3.
Teori
Situasional atau Kontingensi
Teori ini berasumsi bahwa kinerja suatu kelompok
tergantung pada interaksi antara gaya kepemimpinan dan kesesuaian antara
situasi (situasional favorableness). Kepemimpinan dipandang sebagai
hubungan yang didasarkan atas pengaruh dan kekuasaan. Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan
dalam teori ini yaitu: (1) Bagaimana seorang pemimpin mempunyai kekuasaan akan
menjadi efektif dan faktor-faktor situasi yang sesuai, (2) Sejauh mana Gaya
kepemimpinan perilaku dan kinerja bawahan, Fiedlerb (1967), Mengatakan
bahwa kepemimpinan yang berhasil, tergantung pada penerapan gaya pemimpin
terhadap tuntutan situasi. Adair (1984) Pendekatan Situasional
menyatakan bahwa kejadian-kejadian besar adalah produk dari kekuatan-kekuatan historis
yang akan menjadikan seorang pemimpin spesifik hadir atau tidak. Teori situasional
dan kontingensi mencoba mengembangkan kepemimpinan sesuai dengan situasi dan
kebutuhan. Dalam pandangan ini, hanya pemimpin yang mengetahui situasi dan
kebutuhan organisasilah yang dapat menjadi pemimpin yang efektif. Teori
situasional kontingensi terbagi: (1) Teori Path-Goal (Jalan Tujuan), (2) Teori
situasional dari Hersey dan Blanchard, dan (3) Teori Kontingensi dari Fielder. Teori
Path-Goal tentang kepemimpinan telah dikembangkan untuk menjelaskan
bagaimana
perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja para bawahan.
Setelah adanya nonsituasional awal oleh Evans (1970), House (1971), Fulk &
Wendler (1982), dalam Yukl (1994:241), kemudian memformulasi sebuah
versi lebih terperinci dari teori tersebut memasukkan variable-variabel
situasional. Teori Path-Goal diperhalus dan diperluas oleh beberapa
penulis Evans (1974), Fulk & Wendler (1982). Menurut House
(1971:324), dalam Yukl (1998), “Fungsi memotivasi dari pemimpin
tersebut terdiri atas bertambahnya keuntungan (payoff) pribadi para
bawahan bagi pencapaian kerja tujuan dan membuka jalan agar keuntungan tersebut
menjadi lebih mudah dijalankan dengan memperjelasnya, mengurangi
halangan-halangan dan perangkap-perangkap dia jalan serta meningkatkan peluang
bagi kepuasan pegawai terhadap pemimpin tersebut”. House & Dessler (1974:13),
mengatakan bahwa “perilaku pemimpin merupakan sumber kepuasan yang segera atau
sebagai suatu bagian kepuasan di masa datang”. Teori path-Goal telah mengarah pada pengembangan dari dua
proposisi penting menurut Gibson
(1997), Pertama perilaku pemimpin efektif sejauh mana bawahan mempersepsikan perilaku
tersebut sebagai sumber kepuasan langsung atau sebagai sarana bagi kepuasan di
masa mendatang. Kedua Perilaku pemimpin bersifat motivasional sejauh
mana memberikan kepuasan dari kebutuhan bawahan yang kontingensi pada prestasi efektif dan
melengkapi lingkungan bawahan dengan memberikan bimbingan, kejelasan arah, dan
penghargaan yang dibutuhkan untuk prestasi efektif.
4.
Teori
Jalan kecil-Tujuan (Path-Goal Theory) Versi House (1974)
Teori Jalan Kecil-Tujuan berasumsi bahwa dengan
perilaku kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi, kepuasan, dan kinerja par
pengikut. Teori Jalan Kecil-Tujuan versi House, memasukkan empat tipe atau gaya
utama kepemimpinan, Yaitu (1) Kepemimpinan direktif, yaitu gaya ini sama dengan
otokratis dari Lippit dan White. Bawahan tahu dengan pasti apa yang diharapkan
darinya dan
pengarahan yang khusus dari pemimpin, (2) Kepemimpinan yang mendukung (Supportive
Leadership), yaitu pemimpin mempunyai kesediaan untuk menjelaskan sendiri,
bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian yang tinggi terhadap
bawahannya, (3) Kepemimpinan yang berorientasi pada hasil, yaitu: gaya
kepemimpinan ini menetapkan serangkaian tujuan yang menantang para bawahannya
untuk berpartisipasi. Pemimpin juga memberikan keyakinan bahwa mereka mampu melaksanakan tugas
untuk mencapai tujuan secara baik.
5.
Teori
Perilaku (behavior theory)
Teori perilaku (behavior theory) dilandasi
pemikiran, bahwa kepemimpinan merupakan interaksi antara pemimpin dengan
pengikut, dan dalam interaksi pengikutlah yang menganalisis dan mempersepsi apakah
menerima atau menolak pengaruh dari pemimpinnya. Pendekatan perilaku
menghasilkan dua orientasi perilaku pemimpin yaitu: (1) Pemimpin yang
berorientasi pada tugas (task orientation) atau mengutamakan penyelesaian
tugas dan (2) Perilaku pemimpin yang berorientasi pada orang (people orientation) atau yang mengutamakan hubungan manusiawi.
Pemimpin yang berorientasi pada tugas menampilkan gaya kepemimpinan otokratik,
sedangkan perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan kemanusiaan
menampilkan gaya demokratis. Gaya kepemimpinan demokratik mendorong bawahan
untuk menentukan kebijakan sendiri, memberikan pandangan tentang langkah dan hasil yang diperoleh,
memberi kebebasan untuk memulai tugas, mengembangkan insiatif, memelihara
komunikasi dan interaksi yang luas, menerapkan hubungan suportif. Sedangkan gaya kepemimpinan
otokratik mempunyai ciri antara lain: menentukan kebijakan untuk anggota, memberi
bawahan, memberi tugas secara instruktif, menetapkan Langkah-langkah yang harus
dilakukan bawahan, mengendalikan secara ketat pelaksanaan tugas, interaksi dengan anggota
terbatas, tidak mengembangkan insiatif bawahan.
6. Teori Karismatik
Pada dasarnya karisma berasal
kata Yunani yang berarti “Karunia dari Ilahi” (divinely insprired gift) seperti kemampuan melakukan
Mujizat atau memprediksi peristiwa di masa mendatang. Ahli sosilogi Max Weber
(1947) dalam Yukl (1998:268),
telah menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan sebuah bentuk pengaruh
yang didasarkan bukan atas tradisi atau kewenangan, namun atas persepsi para pengikut bahwa pemimpin tersebut dikaruniakan
dengan kemampuan-kemampuan yang luar biasa. Menurut Weber karisma terjadi bila
mana terdapat suatu krisis sosial, yang pada krisis itu, seorang pemimpin
dengan kemampuan pribadi yang luar biasa tampil dengan sebuah visi yang radikal
yang memberi suatu pemecahan terhadap krisis tersebut, dan pemimpin menarik
perhatian para pengikut yang percaya pada visi itu dan merasakan bawah pemimpin
tersebut sangat luar biasa.
House (1977), mengajukan
sebuah teori untuk menjelaskan kepemimpinan karismatik dalam hubungannya dengan
sejumlah dalil yang dapat diuji yang menyangkut proses-proses yang dapat diobservasi
bukunya berdasarkan atas hasil-hasil penemuan dari berbagai disiplin ilmu
sosial. Ia mengidentifikasi bagaimana para pemimpin karismatik berperilaku, bagaimana
mereka berbeda dari orang lain, serta dalam kondisi yang bagaimana
mereka memperoleh banyak kemungkinan untuk berkembang. Dimasukkannya ciri-ciri,
perilaku, pengaruh serta kondisi situasional dan seseorang pemimpin membuat teori ini lebih komprehensif dalam wawasannya dari pada kebanyakan
teori-teori kepemimpinan sebelumnya. Menurut House, seorang pemimpin karismatik
mempunyai dampak yang dalam dan terhadap pengikut mereka merasakan bahwa
keyakinan-keyakinan pemimpin tersebut adalah benar, mereka tunduk kepada
pemimpin dengan senang hati, mereka merasa sayang terhadap pemimpin tersebut,
mereka terlibat emosional dalam misi kelompok atau organisasi tersebut, mereka
percaya bahwa mereka dapat memberi
kontribusi terhadap keberhasilan misi tersebut, dan mereka mempunyai
tujuan-tujuan kinerja tinggi.
Pemimpin karismatik
pada umumnya dapat dilihat dari ciri-ciri yang ditampilkan sebagai berikut: (1)
Memilik visi, misi, sasaran, tujuan dan program-program kerja yang jelas. (2)
Selalu konsisten dan fokus terhadap suatu permasalahan, sehingga penyelesaian
masalahnya tanpa masalah. (3) Selalu mengkomunikasikan visi dan misi dengan efektif, sehingga pencapaian
tujuannya juga efektif dan efisien, dan (4) Mengetahui kelemahan-kelemahan, kekuatan-kekuatan, dan manfaatnya.


Komentar
Posting Komentar