BAB IV PERILAKU KEPEMIMPINAN
Konsep Perilaku
Thoha (1991:186), menyatakan bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dan
interaksi antara seorang individu dengan lingkungannya, dimana perilaku
seseorang itu tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan ditentukan
oleh seberapa jauh interaksi antara dirinya dengan lingkungan. Masing-masing
individu disebabkan oleh situasi sikap yang kompleks, nilai-nilai dan variabel-variabel
situasional yang rumit, seperti tekanan sosial, pilihan-pilihan perilaku aktual,
peristiwa-peristiwa sosial, dan sikap-sikap yang saling bertentangan, sering
kali menyebabkan orang untuk bertindak dalam pelanggaran atas pilihan-pilihan
sikapnya. Totalitas penyebab ini, dikemukakan merupakan suatu prediksi yang
menyebabkan individu-individu dalam birokrasi berperilaku.
Perilaku pemimpin birokrasi harus profesional dalam memberikan pelayanan
yang kepada publik. Karena pada saat ini perilaku pemimpin birokrasi yang paling diharapkan adalah
perilaku yang profesional dalam memberikan pelayanan publik, sehingga pada
gilirannya dapat meningkatkan pengabdiannya kepada masyarakat. Oleh karena itu
ada empat kunci perilaku pemimpin birokrasi yang dapat dikembangkan menuju profesionalisme, yaitu:
1.
Perilaku
pemimpin birokrasi yang lebih dekat kepada masyarakat dengan sikap dasar untuk melayani bukan
dilayani.
2.
Perilaku
pemimpin birokrasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang sesuai dengan
tuntutan masyarakat yang senantiasa berkembang melalui program metode
pengendalian mutu.
3.
Perilaku
pemimpin birokrasi dalam mewujudkan mekanisme perencanaan, program anggaran
dengan lebih banyak mendengar dan menyerap aspirasi masyarakat, baik selaku
objek maupun selaku subjek dalam pelaksanaan pembangunan.
4.
Perilaku
pemimpin birokrasi dalam mewujudkan perampingan dan atau penataan kembali agar
lebih mampu dalam pelayanan publik.
Berdasarkan definisi perilaku tersebut di atas, maka penulis mendefinisikan
perilaku pemimpin adalah “segala kegiatan yang dilakukan seorang pemimpin yang
secara langsung dapat diamati dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan perannya”.
Misalkan perilaku disiplin pemimpin, perilaku ramah, perilaku korupsi, perilaku,
sombong, perilaku malas dan sebagainya.
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku Pemimpin
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Menurut Ndraha (1997:36), ada dua faktor
yaitu
1.
Oleh kondisi
yang akan datang dari luar (lingkungan)
2.
Kepentingan
yang disadari (dari dalam) oleh yang bersangkutan.
Metode membentuk perilaku
Cara membentuk perilaku menurut Robbins (2003:59), ada empat yaitu:
1.
Penguatan
positif
2.
Penguatan negatif
3.
Hukuman
4.
Pemunahan
Sedangkan Dessler (1997:99), mengatakan bahwa perilaku manusia terbentuk
melalui proses dari adanya kebutuhan
(needs), keinginan (want), motivasi, sikap dan niat.
Selanjutnya Dessler (1997:105), menyatakan bahwa terdapat beberapa hukum
perilaku manusia yaitu:
a.
Hukum
perilaku I: menyatakan bahwa manusia bersifat pasif sementara lingkungan
bersifat aktif. Perilaku manusia ditentukan oleh lingkungan yakni reward and
punishment.
b.
Hukum
perilaku II: menyatakan bahwa yang dapat merubah perilakumanusia adalah dirinya sendiri (mentalistic).
c.
Hukum
perilaku III: menyatakan bahwa kegagalan dan kesuksesan akan membentuk perilaku
pada masa berikutnya (accomplishment).
Sedangkan menurut Yusuf Suit & Almasdi (1996:61-62), mengatakan bahwa pembinaan
sikap mental SDM dapat dilakukan dalam empat jalur, yaitu:
1.
Jalur
lingkungan keluarga
2.
Jalur
lingkungan organisasi
3.
Jalur
lingkungan masyarakat
4.
Jalur insiatif
sendiri
Hubungan Nilai-nilai Budaya dengan Perilaku Pemimpin
a.
Hubungan
antara kejujuran dan perilaku
Menurut Wijaya (2000:1), bahwa jujur diartikan
secara baku adalah “mengakui”, berkata atau memberikan suatu informasi yang
seusai kenyataan dan kebenaran. Dengan praktik dan penerapannya secara hukum
tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa
yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi.
Kejujuran dalam berucap bukan sekedar benar isinya melainkan juga harus tepat.
Kejujuran berucap adalah berkata benar dan tepat. kejujuran pada diri sendiri
dilandasi pada pengakuan diri bahwa dirinya memiliki kemampuan dan kekurangan.
Apabila dirinya tidak mampu untuk mengerjakan sesuatu maka dia akan mengatakan
tidak mampu, begitu pula sebaliknya. Orang yang mengakui kelemahan dirinya
adalah orang
yang lebih berpengetahuan dari pada orang yang mengatakan bisa, tahu padahal
dirinya tidak bisa dan tidak tahu. Mencerminkan sifat-sifat etos kerja yang
baik yaitu: disiplin , taat pada aturan dan bertanggungjawab.
b.
Hubungan
antara kepandaian dengan perilaku pemimpin
kepandaian atau kecendekiaan dipahami sebagai kualitas yang cerdik pandai,
peduli dan arif bijaksana, sebagai refleksi kehidupan yang nilai-nilai moral
dan estetika serta berbagai
kearifan hidup yang beraktualisasi secara imajinatif. Hati Nurani dan intelektualitas
pada dasarnya adalah inti kecendekiaan seseorang. Jadi kepandaian seseorang
pemimpin menjadi faktor yang dapat mempertahankan dan meningkatkan kemampuan
organisasi dalam mewujudkan kinerja organisasi yang optimal. Jadi kinerja
organisasi akan tercapai apabila pemimpin birokrasi mempunyai kepandaian dalam
mempengaruhi bawahannya dalam melaksanakan pekerjaan.
c.
Hubungan
antara kepatutan dengan perilaku
pemimpin pada dasarnya merupakan kunci utama dalam keberhasilan organisasi,
baik dilihat pemimpin sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok yang
menduduki jabatan sebagai teknis maupun sebagai pelaksana pemimpin birokrasi.
Dalam menlaksanakan misi organisasi dengan didasarkan atas kemampuan seseorang dalam menduduki jabatan. Dalam
artian bahwa penempatan pemimpin birokrasi harus disesuaikan tuntutan jabatan
dalam suatu organisasi, artinya pemimpin birokrasi ditempat dalam suatu jabatan
senantiasa didasarkan pada kemampuan yang dimiliki.
d.
Hubungan
antara usaha dengan perilaku
Usaha atau etos kerja dapat diartikan sebagai:
1.
Sebagai
panduan tingkah
laku bagi seseorang pemimpin dalam sebuah birokrasi.
2.
Etos kerja
merupakan perilaku khas suatu komunitas atau organisasi mencakup motivasi yang menggerakkan,
karakteristik utama, spirit, pikiran dasar, kode moral, kode etik, kode
perilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip
dan standar-standar
3.
Sehimpun
perilaku positif yang lahir sebagai sebuah keyakinan fundamental dan komitmen
total pada sehimpun paradigma kerja integral.
e.
Hubungan
antara harga diri dengan perilaku pemimpin
Harga diri atau self-esteem merujuk pada penilaian
subjektif seseorang tentang dirinya sebagai positif dan negatif. Siri menurut
Abu Hamid (2005:xii), adalah merupakan suasana hati dalam masyarakat yang
merupakan sistem nilai sikap bertindak untuk mempertahankan perasaan
motivasi-motivasi dengan membentuk keteraturan tindakan (perilaku). Nilai siri
dalam perilaku sangat penting, oleh karena nilai-nilai harus diinterpretasikan
secara lebih nyata dalam menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinan. Jika nilai
siri merupakan taruhan harga diri, maka harga diri tersebut harus diangkat
melalui kerja keras, berprestasi, berjiwa pelopor dan senantiasa berorientasi
keberhasilan.
Menyesuaikan Perilaku Pemimpin Birokrasi Dengan Situasi
Pemimpin birokrasi yang baik adalah pemimpin yang selalu menyesuaikan
perilaku dengan keadaan pekerjaan dan keadaan pegawainya. Cribbin (1985:108),
mengatakan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah akan menyesuaikan
perilakunya dengan tuntutan keadaan. Cribbin memberikan contoh keadaan
tersebut. Oleh karena dapat dikatakan bahwa perilaku pemimpin tidak dapat secara mekanis
dicocokkan dengan setiap keadaan.
Studi Kepemimpinan Ohio State
Penelitian Tentang Consideration Dan Initiating Structure
Hasil penelitian ini dibuat luar biasa, namun perlu untuk memperhatikan
apakah ia dapat digeneralisasikan terhadap jenis-jenis pemimpin lain atau
terhadap kriteria lainnya seperti misalnya kinerja kelompok. Beratus-ratus
studi telah dilakukan terhadap efek consideration dan initianting structure, namun hasil
bagi kebanyakan kriteria tidaklah konsisten dan konklusif Bass (1990) Kerr dan
Schrieshein (1974), Yukl (1971). Pada beberapa studi para bawahan lebih puas
dan bekerja lebih baik dari seorang pemimpin yang structuring, sedangkan studi
yang lainnya hubungan yang kebalikan atau hubungan yang nyata tidak ditemukan.
Penemuan tersebut juga tidak konsisten mengenai hubungan consideration dan
kriteria kinerja. Satu-satunya hubungan yang cukup konsisten adalah efek dari
consideration terhadap kriteria kepuasan. Seperti yang disarankan oleh studi Fleishman dan Harris, para bawahan kebanyakan akan
lebih puas dengan seorang pemimpin yang sedikitnya moderrat dalam
consideration. Tidak seperti Flesihman dan Harris, kebanyakan peneliti telah
mengabaikan untuk mengetes kemungkinan adanya hubungan curvilinear, atau
mengenai interaksi antara consideration dan initiating structure.


Komentar
Posting Komentar