BAB II TUGAS, FUNGSI, DAN PERAN KEPEMIMPINAN
A.
Pendahuluan
Dalam segala situasi pemimpin birokrasi memiliki
peran yang sangat penting, pemimpin birokrasi merupakan simbol, panutan,
pendorong, sekaligus sumber pengaruh, yang dapat mengarahkan berbagai kegiatan
dan sumber daya birokrasi guna mencapai tujuannya. Tidak mengherankan begitu
banyak studi yang telah dilakukan oleh ilmuwan tentang kepemimpinan, menghasilkan
informasi dan analisis tentang pentingnya pengetahuan pemimpin, jadi apa pun
alasannya kepemimpinan tetap relevan untuk dikaji sebagai peningkatan efisiensi
dan efektivitas pelayanan publik. Mengingat dari berbagai hasil penelitian
menunjukkan bahwa rendahnya kualitas pelayanan publik disebabkan oleh rendahnya
kualitas pemimpinnya.
B.
Tugas
Kepemimpinan
Tugas kepemimpinan
(leadership function), pada dasarnya meliputi dua bidang utama, yaitu
pencapaian tujuan birokrasi dan kekompakan orang yang dipimpinnya. Tugas yang
berhubungan dengan pekerjaan disebut relationship funciton. Keating (1986:9),
mengatakan bahwa tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kelompok yaitu: “(1) Memulai (initiating)
yaitu usaha agar kelompok mulai kegiatan atau Gerakan tertentu. (2)
Mengatur (regulating) yaitu Tindakan untuk mengatur arah dan melangkah
kegiatan kelompok, (3) Memberitahu (informating) yaitu kegiatan
memberikan informasi, data, fakta, dan pendapat yang diperlukan. (4) Mendukung (supporting)
yaitu usaha untuk menerima gagasan, pendapat, usul dari bawah dan
menyempurnakannya dengan menambah atau mengurangi untuk digunakan dalam rangka
penyelesaian tugas Bersama. (5) Menilai (evaluating) yaitu Tindakan
untuk menguji gagasan yang muncul atau cara kerja yang diambil menunjukkan konsekuensi-konsekuensinya
dan untung ruginya. (6) Menyimpulkan (summarizing) yaitu kegiatan untuk
mengumpulkan dan merumuskan gagasan, pendapat dan usul yang muncul, menyingkat lalu
menyimpulkan sebagai landasan untuk memikirkan lebih lanjut”. Lebih lanjut Keating
mengatakan bahwa tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kekompakan dalam
kelompok antara lain, yaitu: “(1) Mendorong (ecourraging) yaitu bersikap
hangat, bersahabat menerima orang-orang. (2) Mengungkapkan perasaan, (expressing
feeling) yaitu Tindakan menyatakan perasaan terhadap kerja dan kekompakan
kelompok, seperti rasa puas, rasa senang, rasa bangga, dan ikut seperasaan
dengan orang-orang yang dipimpinnya pada waktu mengalami kesulitan, kegagalan,
dan lain-lain. (3) Mendamaikan (harmonizing), yaitu Tindakan
mempertemukan dan mendamaikan pendapat-pendapat yang berbeda dan menurunkan
orang-orang yang bersitegang satu sama lain. (4) Mengalah (compromising), yaitu
kemampuan untuk mengubah dan menyesuaikan pendapat dan perasaan sendiri dengan
pendapat perasaan orang-orang yang dipimpinnya. (5) Memperlancar (gatekeeping),
yaitu kesediaan membantu mempermudah keikutsertaan para anggota dalam
kelompok, sehingga semua secara ikhlas menyumbangkan dan mengungkapkan
gagasan-gagasan, dan (6) Memasang aturan main (setting standards), yaitu Tindakan menyampaikan aturan dan tata
tertib yang membantu kehidupan kelompok”.
C.
Fungsi
Kepemimpinan
Stoner (1996:165), mengatakan bahwa fungsi kepemimpinan adalah agar seseorang
beroperasi secara efektif kelompok memerlukan seseorang untuk melakukan dua hal
fungsi utama, yaitu (1) Berhubungan dengan tugas atau memecahkan masalah, (2)
Memelihara kelompok atau sosial, yaitu tindakan seperti menyelesaikan
perselisihan dan memastikan bahwa individu merasa dihargai oleh kelompok.
Selanjutnya Hicks & Gullet (1996:503), membagi delapan fungsi
kepemimpinan , yaitu (1) pemimpin sebagai penengah, (2) pemimpin sebagai
penganjur, (3) pemimpin sebagai pemenuhan tujuan, (4) pemimpin sebagai
katalisator, (5) pemimpin sebagai pemberi jaminan, (6) pemimpin sebagai yang
mewakili, (7) pemimpin sebagai pembangkit semangat, dan (8) pemimpin sebagai pemuji.
Sedangkan Rivai (2004:96), memberikan
beberapa contoh tentang fungsi kepemimpinan, yaitu: (1) menciptakan visi dan
rasa komunitas, (2) membantu mengembangkan komitmen dari pada sekedar
memenuhinya,
(3) menginspirasi kepercayaan, mengintegrasikan pandangan yang berlainan, (4)
mendukung pembicaraan yang cakap melalui dialog, (5) membantu menggunakan
pengaruh mereka, (6) memfasilitas, (7) memberi semangat pada yang lain, (8)
menopang tim, dan (9) bertindak sebagai model.
Sedangkan fungsi kepemimpinan menurut Adair (2008:11), yaitu:
1.
Perencanaan
yaitu (a) mencari semua informasi
yang tersedia, (b) mendefinisikan tugas, (c) maksud, atau tujuan kelompok, (d) membuat
rencana yang dapat terlaksana (dalam
kerangka membuat keputusan yang tepat),
2.
Pemrakarsaan
yaitu (a) memberikan pengarahan pada kelompok
mengenai sasaran dan rencana. (b) menjelaskan mengapa menetapkan sasaran atau
rencana merupakan hal yang penting. (c) membagi tugas pada anggota kelompok.
(d) Menetapkan standar kelompok.
3.
Pengendalian
yaitu (a) Memelihara antara
kelompok, (b) Mempengaruhi tempo, (c) Memastikan semua Tindakan diambil dalam
upaya meraih tujuan, (d) Menjaga relevansi diskusi, dan (e) Mendorong kelompok
mengambil Tindakan/keputusan.
4.
Pendukung yaitu (a) mengungkapkan pengakuan terhadap orang
dan kontribusi mereka, (b) memberi semangat pada kelompok/Individu, (c)
menciptakan semanta tim, (d) meredakan ketegangan dengan humor, (e) merukunkan
perselisihan atau meminta orang lain menyelidikinya.
5.
Penginformasian
yaitu (a) memperjelas tugas dan
rencana, (b) memberikan informasi baru pada kelompok, seperti melihatkan
mereka. (c) menerima informasi dari kelompok, (d) membuat ringkasan atas usul
dan gagasan yang masuk akal
6.
Pengevaluasian
yaitu (a) memperjelas tugas dan
rencana, (b) menguji konsekuensi solusi yang diusulkan, (c) mengevaluasi prestasi
kelompok, (d) membantu kelompok mengevaluasi sendiri prestasi mereka
berdasarkan standar yang ada.
Fungsi kepemimpinan menurut Siagian (2003:48-70),
yaitu: “(1) Pimpinan sebagai penentu arah, (2) Pimpinan sebagai wakil dan juru
bicara birokrasi, (3) Pimpinan sebagai komunikator yang efektif, (4) Pimpinan sebagai mediator,
(5) Pimpinan selaku integrator”. Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1.
Pimpinan
sebagai penentu arah, yaitu setiap birokrasi, baik di bidang kenegaraan, keniagaan,
politik, sosial dan birokrasi kemasyarakatan lainnya, diciptakan atau dibentuk
sebagai wahana untuk mencapai tujuan tertentu baik yang sifatnya jangka Panjang,
jangka pendek, yang tidak mungkin tercapai apabila tidak diusahakan dicapai
oleh anggotanya yang bertindak sendiri-sendiri, tanpa ditentukan arah oleh pimpinan.
2.
Pimpinan
sebagai Wakil dan Juru bicara
birokrasi, yaitu dalam rangka mencapai tujuan, tidak ada birokrasi yang
bergerak dalam suasana terisolasi. Artinya, tidak ada birokrasi yang akan mampu mencapai tujuannya tanpa memelihara hubungan
yang baik dengan berbagai pihak di luar birokrasi itu sendiri, yaitu pihak
stakeholder.
3.
Pimpinan
Sebagai Komunikator, yaitu pemeliharaan baik ke luar maupun ke dalam dilaksanakan melalui proses
komunikasi, baik secara lisan maupun secara tulisan. Berbagai kategori
keputusan yang telah diambil disampaikan kepada para pelaksana melalui jalur
komunikasi yang terdapat dalam birokrasi. Bahkan sesungguhnya interaksi yang
terjadi diantara atasan sesama petugas pelaksana kegiatan operasional dimungkinkan
terjadi dengan baik berkat terjadinya komunikasi yang efektif.
4.
Pimpinan
sebagai mediator, yaitu dalam kehidupan birokrasi, selalu saja ada situasi
konflik yang harus di atasi, baik dalam hubungan ke luar maupun dalam hubungan
ke dalam birokrasi. Pembahasan tentang fungsi pimpinan sebagai mediator pada
penyelesaian situasi konflik yang mungkin timbul dalam suatu birokrasi, tanpa
mengurangi pentingnya situasi konflik yang mungkin dalam hubungan ke luar
dihadapi dan diatasi. Dalam suatu birokrasi dapat timbul situasi dan faktor
penyebabnya pun dapat beraneka ragam. Situasi konflik biasanya timbul karena
tiga faktor, yaitu: (1) persepsi subjektif tentang kemungkinan timbulnya
tantangan dan pihak lain dalam birokrasi, (2) kelangkaan sumber daya dan dana,
(3) adanya situasi bahwa dalam birokrasi terdapat berbagai kepentingan yang
diperkirakan tidak dapat atau sulit diserasikan.
5.
Peranan
selaku Integrator, yaitu merupakan kenyataan dalam kehidupan birokrasi bahwa
timbulnya kecenderungan berpikir dan bertindak berkotak-kotak di kalangan para
anggota birokrasi dapat diakibatkan oleh sikap yang positif, tetapi mungkin
pula karena sikap yang negatif. Dikatakan dapat bersifat positif karena adanya
tekad dan kemauan keras di kalangan para anggota birokrasi yang tergabung dalam
satu kelompok tertentu untuk berbuat seoptimal mungkin bagi birokrasi. Akan
tetapi sikap demikian dapat mempunai dampak negatif bagai kehidupan birokrasi apabila
dalam usha berbuat sebaik mungkin bagi birokrasi, para anggota birokrasi yang
bersangkutan lupa bahwa keberhasilan satu kelompok yang bekerja sendirian belum
menjamin keberhasilan birokrasi secara menyeluruh.
Selain fungsi-fungsi tersebut di atas, maka fungsi
lain Kepemimpinan Birokrasi dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.
Fungsi
Perintah, yaitu fungsi
kepemimpinan yang bersifat satu arah kepada yang dipimpinnya. Pemimpin
birokrasi sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya
kepada orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin sebagai komunikator merupakan
pihak yang menentukan apa, kapan, di mana, dan bagaimana cara melakukan
perintah tersebut. Fungsi ini tidak akan ada artinya tanpa kemampuan
mengimplementasikan isi perintah tersebut. Hal ini sejalan dengan pengertian
kepemimpinan yaitu kemampuan menggerakkan orang lain agar melaksanakan perintah
atau keputusan yang telah ditetapkannya.
2.
Fungsi
Konsultatif, yaitu fungsi
kepemimpinan yang bersifat dua arah kepada yang dipimpinnya, meskipun
pelaksanaan sangat tergantung pada pihak pemimpin. Ketika pemimpin akan
mengambil suatu keputusan biasanya memerlukan beberapa pertimbangan yang
mengharuskan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi
dapat dilakukan kepada orang-orang tertentu yang diyakini memiliki banyak
informasi yang diperlukan dalam mengambil suatu keputusan. Konsultasi dilakukan
untuk mendengarkan pendapat dan saran kepada semua unsur penting dalam suatu birokrasi.
Fungsi konsultatif dapat diharapkan semua keputusan yang diambil oleh pemimpin
mendapat dukungan dari orang yang dipimpinnya.
3.
Fungsi Partisipatif,
yaitu fungsi kepemimpinan yang
bersifat dua arah kepada yang dipimpinnya, tetapi juga berwujud pelaksanaan
hubungan manusia yang efektif antara pemimpin dan yang dipimpinnya. Dalam
fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik
dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakan keputusan.
Setiap orang yang ada dalam birokrasi
mempunyai kesempatan yang sama dalam ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
4.
Fungsi
Delegasi, yaitu fungsi pemimpin
untuk mendelegasikan wewenang untuk membuat, menetapkan, dan atau melaksanakan
keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan pimpinan. Fungsi
ini mengharuskan pemimpin memilah-milah tugas pokok birokrasinya dan
mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat didelegasikan pada orang-orang yang
dipercayainya. Fungsi delegasi pimpinan pada dasarnya adalah kepercayaan
pimpinan kepada bawahannya.
D.
Peran
Kepemimpinan
Pemimpin berdasarkan konsep teoritis sebagaimana
yang telah dikemukakan memiliki tanggung jawab yang besar baik dalam suatu birokrasi
pemerintahan maupun swasta. Dengan demikian peranan pemimpin sangat penting
dalam usaha mencapai tujuan suatu birokrasi, sehingga dapat diketahui keberhasilan
atau kegagalan yang dialami, sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan. Sedangkan kepemimpinan menurut
Sinambela (2006:106), terdiri atas 3 tingkatan yaitu: (1)
pemimpin tingkat atas (top management), (2) pemimpin tingkat menengah (middle
management), dan (3) pemimpin tingkat bawah (lower management).
Jika diklasifikasikan tingkat ini pada Lembaga Non
Departemen dan Departemen di pemerintahan, yang disebut pemimpin tingkat atas
adalah pejabat eselon I, sedangkan pemimpin tingkat menengah adalah pejabat
eselon II dan III. Selanjutnya pemimpin tingkat bawah adalah pejabat eselon IV dan
V. masing-masing klasifikasi atau tingkat pemimpin mempunyai tugas, fungsi, dan
peran dalam birokrasi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran birokrasi.
Berdasarkan berbagai pendapat dari pakar
kepemimpinan, maka peran pemimpin birokrasi dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.
Peran Pengambilan
Keputusan, yaitu pemimpin
birokrasi sebagai top manager khususnya, memiliki kewenangan mengambil
keputusan . pengambilan keputusan merupakan pekerjaan manajerial yang
memutuskan apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang
melakukannya, dan kapan akan dilakukan. Dalam hal ini menetapkan sasaran ,
proritas, strategi, struktur formal, alokasi sumber-sumber daya, pertunjukan tanggung jawab
dan pengaturan kegiatan-kegiatan. Tujuannya adalah untuk memastikan
pengorganisasian unit kerja yang efisien, koordinasi kegiatan-kegiatan,
penggunaan sumber-sumber daya secara efisien, serta adaptasi kepada sebuah
lingkungan yang berubah-ubah. Aspek yang paling penting dari kebanyakan bentuk
pengambilan keputusan adalah memutuskan bagaimana mengalokasikan
sumber-sumber daya di antara berbagai kegiatan sesuai dengan kepentingan relativenya
(resource allocation), termasuk perencanaan pengembangan prosedur-proseder untuk menghindari
masalah-masalah (potential problem analysis) dan pengembangan prosedur untuk
melakukan tanggapan secara cepat dan efektif terhadap masalah-masalah krisis-krisis
yang tidak dapat dihindari (contingency planning). Pertanyaan yang
muncul kemudian adalah, sudahkah peran-peran stratejik pemimpin diterapkan pada
birokrasi di Indonesia? Jawabannya tentu bervariasi dan sangatlah relatif. Artinya
peran ini belum sepenuhnya dapat diadopsi oleh pemimpin birokrasi, baik sebagai
peran antar pribadi, peran informasional, dan pengambilan keputusan belum sepenuhnya
dilakukan sesuai dengan yang diidealkan.
2.
Peran mempengaruhi,
yaitu: pemimpin birokrasi harus
dapat memberikan pengaruh kepada bawahannya, sehingga mau bekerja sama dalam
merealisasikan suatu program kerja. Pemimpin Birokrasi dapat mengembangkan
berbagai Teknik mempengaruhi bawahan, dan ini sebenarnya mudah bagi pemimpin
birokrasi publik karena kewenangan atasan sangat tinggi. Tetapi kalau hanya
mengandalkan kewenangan semata-mata, juga tidak akan memberikan efek yang
berarti terhadap bawahan. Pemimpin birokrasi dapat memodifikasi kewenangan dan
keunggulan-keunggulan sifat yang dimiliki oleh seseorang pemimpin birokrasi. Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan agar peran mempengaruhi bawahan yang efektif, yaitu: (a)
Menjadikan seorang pemimpin birokrasi yang jujur, adil, terhadap semua bawahan
tanpa pilih kasih, (b) berusaha memberikan contoh dalam bekerja dan bertindak,
(c) Bersikap arif dan bijaksana terhadap bawah yang melakukan pelanggaran, (d) Senantiasa
melibatkan bawahan dalam berbagai kegiatan, (e) Tumbubkan rasa percaya diri pada
bawahan, bahwa mereka memiliki kemampuan dan etos kerja yang tinggi, dan (f) Usahakan
bawahan tetap merasa dihargai, dengan menjadikan mereka sebagai partner atau
tim kerja.
3.
Peran memotivasi,
yaitu berkaitan dengan pemberian
dorongan kepada pegawai untuk bekerja lebih giat. Hubungan pengaruh dan
motivasi adalah kalau peran mempengaruhi efektif, maka peran memotivasi akan
lebih mudah dilakukan. Sebaliknya jika pemimpin tidak mampu menanamkan pengaruh
terhadap bawahannya, maka sulit baginya untuk melakukan motivasi. Dalam memotivasi
hendaknya pemimpin memahami benar-benar karakter bawahan yang berbeda kemampuan,
pengetahuan, dan perilaku.
4.
Peran antar
pribadi, yaitu peran stratejik
pada peran antar pribadi dalam kaitannya dengan kedudukannya sebagai pemimpin
birokrasi, adalah sebagai figure atau tokoh yang cukup dihargai. Pemimpin harus
menampilkan perilaku yang baik dan benar, seperti etos kerja yang tinggi, disiplin,
dan sikap positif lainnya. Pemimpin birokrasi harus menempatkan diri sebagai
penuntun, pemberdayaan dan pendorong bagi bawahannya.
5.
Peran informasional,
yaitu peran informasional yang
dimiliki seorang pemimpin birokrasi sangat strategis, mengingat pemimpin
birokrasi adalah pemegang kunci, khususnya informasi tentang birokrasi yang dipimpinnya. Kemampuan
komunikasi sangatlah diperlukan oleh seorang pemimpin agar dapat menjadi komunikator
yang efektif. Peran informasional adalah menjelaskan kepada bawahan menyangkut
rencana-rencana kebijakan-kebijakan, serta harapan peran, dan instruksi tentang
cara pekerjaan harus dilakukan, tanggung jawab bagi para bawahan atau anggota
tim, dan tujuan-tujuan kinerja dan otorisasi rencana Tindakan untuk
mencapainya.
Peran ini tersebut di
atas mempunyai bentuk, seperti menjawab sebuah permintaan informasi, mengadakan
pertemuan untuk penjelasan kepada pendukung perkembangan-perkembangan baru,
membuat laporan, mengirim pesan elektronik, menempatkan pesan-pesan pada
pengumuman, mendistribusikan laporan berkala, menelepon seseorang untuk
meneruskan informasi baru, dan menyampaikan dokumen-dokumen tertulis atau
laporan kepada orang-orang dengan jalan lain tidak akan menerimanya.
Jadi dapat dikatakan
bahwa tugas, fungsi, dan peran kepemimpinan dalam suatu birokrasi sangat urgen
dalam rangka pencapaian tujuan, yaitu pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada
publik. Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin agar dapat
menjalankan tugas, fungsi serta peran pemimpin yaitu Wibawa. Sedangkan wibawa
yang dimaksud adalah wibawa pribadi bukan wibawa jabatan. Wibawa pribadi
merupakan pelengkap mutlak bagi wibawa jabatan.


Komentar
Posting Komentar