BAB I PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
A. PENDAHULUAN
Kepemimpinan dalam birokrasi untuk merupakan
sesuatu yang sangat berhasil tidaknya birokrasi. Karena pemimpin yang
bertanggungjawab untuk mengkoordinir dan mengorganisir sumber daya birokrasi
sehingga bisa menjadi satu kesatuan yang
utuh dan selaras satu sama lain. Coutoris menyatakan bahwa kelompok atau
birokrasi tanpa pimpinan seperti tubuh tanpa kepala, mudah tersesat, kacau
anarki. Kemudian Yung berpendapat bahwa Sebagian besar umat manusia memerlukan
pemimpin, bahkan mereka tidak menghendaki yang lain dari pada pemimpin. Oleh
karena itu , birokrasi sangat membutuhkan pemimpin yang vionir, yaitu pemimpin
yang mempunyai visi serta pemimpin yang mau melayani bukan dilayani.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka
kepemimpinan dalam suatu birokrasi sangat penting, oleh karena pemimpinlah yang
dapat membuat keputusan, memotivasi bawahan melaksanakan keputusan yang telah
dibuat, dan pemimpinlah juga yang mengawasi pelaksanaan keputusan tersebut agar
dapat tercapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, tidak terlalu berlebihan
jika penulis ingin menulis tentang “kepemimpinan birokrasi”. Dengan harapan
bahwa para pemimpin birokrasi dapat memahami dan menggunakan konsep atau
teori-teori kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam melaksanakan tugas pokok
dan fungsinya.
- B.
Beberapa
Pengertian Pokok
1.
Definisi Pemimpin
konsep “pemimpin” berasal dari kata asing “leader” dan “kepemimpinan” dari
“leadership”. Bennis (1998:71), mengatakan bahwa pemimpin adalah orang
yang paling berorientasi hasil di dunia, dan kepastian dengan hasil ini hanya
positif kalau seseorang mengetahui apa yang diinginkannya. Fairchild (1960),
pemimpin dalam arti yang luas adalah “seseorang yang memimpin, dengan jalan
memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan,
mengorganisasikan atau mengontrol usaha (upaya) orang lain atau melalui prestise,
kekuasaan atau posisi”. Kouzes (2004:17), mengatakan bahwa pemimpin
adalah vionir sebagai orang yang bersedia melangkah ke dalam situasi yang tidak
diketahui. Pemimpin yang mempunyai visi yang jelas dapat menjadi penuntun dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin. Kartono (2005:51),
menyatakan pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu,
sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain
melakukan usaha bersama guna mencapai sasaran tertentu. Rivai (2004:65),
menyatakan pemimpin adalah anggota dari suatu kumpulan yang diberi kedudukan
tertentu dan diharapkan dapat bertindak sesuai kedudukannya. Jadi pemimpin adalah
juga seseorang dalam suatu perkumpulan yang diharapkan dapat menggunakan
pengaruhnya untuk mewujudkan dan mencapai tujuan kelompok. Sudriamunawar (2006:1), pemimpin adalah seseorang yang memiliki
kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan
kerja sama ke arah pencapaian tujuan
yang telah ditentukan sebelumnya. Raven dalam Wirjana (2006:4),
mengatakan bahwa pemimpin adalah “seorang yang menduduki suatu posisi di
kelompok, mempengaruhi orang-orang dalam kelompok itu sesuai dengan ekspektasi
peran dan posisi tersebut, dan mengkoordinasi serta mengarahkan kelompok untuk
mempertahankan
diri serta mencapai
tujuannya”. Syafi’ie (2003:1), menyatakan bahwa pemimpin adalah orang yang mempengaruhi pihak
lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain tersebut
bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Nawawi (2004:9),
mengatakan bahwa pemimpin adalah orang yang memimpin, sedangkan pengertian
pemimpin yang paling baru sebagai post modern dari Lantu (2007:29),
menyatakan bahwa pemimpin adalah pelayan. Definisi yang terakhir ini sangat
menarik karena yang terjadi selama ini adalah pemimpin yang dilayani, bukan
melayani?. Intinya pemimpin adalah orang yang mempunyai pengikut atau pendukung
karena kapasitasnya.
Perbedaan pemimpin dan pimpinan
perbedaan “pemimpin” dan “pimpinan” dapat
ditelusuri melalui pendapat para pakar antara lain: menurut Rukmana (2007),
pejabat sudah pasti pimpinan, tapi belum tentu dapat berperan sebagai pemimpin.
Dari berbagai literatur tentang kepemimpinan dapat dipahami bahwa pemimpin (leader)
adalah orang yang melakukan atau menjalankan kepemimpinan (leadership). Sedangkan
pimpinan adalah mencerminkan kedudukan seseorang atau sekelompok orang pada hierarkhi
tertentu dalam suatu birokrasi formal maupun informal. Pimpinan birokrasi tentu
saja mempunyai bawahan, yang karena kedudukannya sebagai pimpinan yaitu mempunyai
kekuasaan formal (wewenang/authority) dan tanggung jawab (akuntabilitas).
Dari
berbagai definisi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
pemimpin dan pimpinan. Adapun berbedaan keduanya yaitu: pemimpin adalah orang
yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dalam rangka pencapaian tujuan
tertentu. Sedangkan “pimpinan
adalah orang yang menduduki jabatan dalam suatu organisasi atau birokrasi”.
2.
Definisi
Kepemimpinan
Definisi kepemimpinan telah dikemukakan oleh berbagai literatur kepemimpinan, namun
definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, berbeda-beda tergantung dari
perspektif unit analisis masing-masing. Untuk memudahkan memahami pendapat para
ahli tersebut, mak akan dikemukakan pendapat sebagai berikut. Robbins (2006:432),
menyatakan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian
sasaran. Maxwell (1995:1), kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh
pengikut. Lebih jauh Maxwell menjelaskan bahwa pemimpin terkemuka suatu
kelompok tertentu mudah ditemukan, perhatikan saja orang-orang Ketika mereka
berkumpul . kalau suatu persoalan harus diputuskan, siapa orang yang
padangannya tampak paling berharga, siapa yang paling diperhatikan, Ketika
persoalan dibicarakan? Siapa orang yang paling cepat disetujui oleh orang-orang
lainnya?, yang paling penting, siapa yang paling diikuti oleh orang lainnya?
Jawaban terhadap semua pertanyaan itu akan membantu untuk menentukan siapa
pemimpin yang sesungguhnya dalam suatu kelompok tertentu. Bahkan pengaruh
menurut Maxwell merupakan investasi yang paling baik untuk masa depan. Gibson
dkk (1997:5), mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu usaha menggunakan
suatu gaya mempengaruhi dan tidak memaksa untuk memotivasi individu dalam
mencapai tujuan. Definisi Gibson mengisyaratkan bahwa kepemimpinan
melibatkan penggunaan pengaruh dan semua hubungan dapat melibatkan
kepemimpinan. Stoner (1996:161), mengatakan kepemimpinan adalah proses
mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari
anggota kelompok. Keating (1986:9), mengatakan kepemimpinan adalah merupakan
suatu proses atau sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan Bersama. Yukl
(1994:4), mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi,
yang mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa bagi para pengikut,
pilihan dari sasaran-sasaran bagi kelompok atau birokrasi, pengorganisasian
dari aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut,
motivasi dari para pengikut untuk mencapai sasaran, pemeliharaan hubungan kerja
sama dan teamwork, seta perolehan dukungan dan kerja sama dari
orang-orang yang berada di luar kelompok atau birokrasi. Kouzes & Posner
(2004:3), mengatakan kepemimpinan adalah penciptaan cara bagi orang untuk
ikut berkontribusi dalam mewujudkan sesuatu yang luar biasa. Boone & kurtz
(1984), yang mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah Tindakan memotivasi orang
lain atau menyebabkan orang
lain melakukan tugas tertentu dengan tujuan untuk mencapai tujuan spesifik.
Sedangkan Tzu & Cleary (2002:5), berpendapat lain tentang
kepemimpinan adalah sebuah persoalan kecerdasan kelayakan untuk dipercaya,
kelembutan, keberanian, dan ketegasan. Selanjutnya kepemimpinan menurut Nawawi
(2004:9), adalah kemampuan atau kecerdasan mendorong sejumlah orang (dua
orang atau lebih ) agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
terarah pada tujuan Bersama. Kartono (2005:153), menyatakan kepemimpinan
adalah “kemampuan untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain untuk melakukan
satu usaha kooperatif mencapai tujuan yang sudah direncanakan”. Rivai (2004:65),
menyatakan Kepemimpinan adalah peranan dan juga suatu proses untuk mempengaruhi
orang lain.
Dalam menjelaskan konsep pemimpin dan kepemimpinan , maka perlu pula
memberikan definisi konsep-konsep yang erat kaitannya dengan kepemimpinan
sebagai berikut, yaitu (1) Kredibilitas adalah fondasi kepemimpinan Kouzes
(2004:25), menurut Kouzes tanpa kredibilitas anda tidak dapat menjadi
pemimpin, karena dengan kredibilitas para pemimpin mendapatkan kepercayaan dan
keyakinan. Kredibilitas berakar dari masa lalu dan berhubungan dengan reputasi.
Sedangkan yang dimaksud reputasi menurut Kouzes adalah jaminan manusia karena
masa lalunya yang baik. (2) Integritas menurut Maxwell (1995:37),
adalah faktor kepemimpinan yang paling penting. Maxwell menyatakan bahwa dengan
integritas kepemimpinan menjadi lengkap, merupakan kesatuan dari perkataan
dengan perbuatan. Integritas adalah apa diri kita yang sesungguhnya, atau
dengan kata lain integritas bukan apa yang kita lakukan tetapi lebih banyak
siapa diri kita, karena dengan integritas dapat membangun kepercayaan. (3) Kedudukan
menurut Tulus (1995:24), adalah sekumpulan tugas, tanggung jawab dan
wewenang seseorang. (4) Jabatan adalah pekerjaan yang telah melembaga
dalam suatu instansi atau telah membudaya dalam masyarakat, jabatan mencakup
tanggung jawab dan wewenang. (5) Wewenang (authority) menurut Stoner
(1996:41), adalah suatu bentuk kekuasaan, sering kali dipergunakan secara
lebih luas untuk menunjuk kemampuan manusia menggunakan kekuasaan sebagai hasil
dari ciri-ciri seperti pengetahuan atau gelar. (6) Tanggung Jawab adalah
hal yang menjadi keharusan pemegang jawaban untuk: (1) menerima diri sebagai
penyebab utama mengenai suatu kejadian, baik atau buruk, benar atau salah. (2)
menerima diri untuk dibenarkan atau disalahkan mengenai suatu kejadian. (3)
menerima hukuman jika salah melakukan sesuatu, (4) memberi jawaban dan
penjelasan dalam hal tertentu. (7) Kewibawaan adalah berbagai kelebihan yang dimiliki oleh
seseorang sehingga orang lain dapat mematuhi kehendaknya tanpa tekanan dalam
melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan. (8) Kemampuan adalah totalitas
kekuatan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan untuk
mencapai tujuan. (9) Pengaruh (influence) menurut Stoner (1996:161),
adalah Tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau
tingkah laku orang atau kelompok lain.
Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang sukses memimpin dirinya sendiri.
Tapi kunci menuju sukses dalam memimpin birokrasi adalah kemampuan memimpin
bawahan secara sukses. Salah satu caranya adalah ikuti kata-kata Filsuf Iran Saadi,
mengatakan bahwa berikanlah kata-kata manis orang lain. “Karena dengan
kata-kata manis dan keramahtamahan kita bisa menuntun gajah dengan sehelai
rambut”.
3.
Definisi
birokrasi
Blau (2004:4), menyatakan
birokrasi adalah tipe organisasi yang dirancang untuk menyelesaikan tugas-tugas
administratif dalam skala besar dengan cara mengkoordinasi pekerjaan banyak
orang secara sistematis. Sinambela (2006:70), mengatakan bahwa birokrasi
adalah organisasi yang ditujukan untuk memaksimumkan efisiensi dalam
administrasi. Setiyono (2004:9), mengatakan bahwa birokrasi adalah merupakan sebuah ruang
mesin negara. Di dalam berisi orang-orang (pejabat) yang digaji dan
dipekerjakan oleh negara untuk memberikan nasehat dan melaksanakan kebijakan
politik negara.
Kristiadi (1994:93), mengatakan bahwa birokrasi adalah
merupakan struktur organisasi di sektor pemerintah, yang memiliki ruang lingkup
tugas-tugas sangat luas serta memerlukan organisasi besar dengan sumber daya manusia yang besar pula
jumlahnya. Birokrasi yang dimaksudkan untuk penyelenggaraan bernegara,
penyelenggaraan pemerintahan termasuk di dalamnya penyelenggaraan pelayanan
umum dan pembangunan, seringkali oleh masyarakat diartikan dalam konotasi yang
berbeda.
Tugas pokok
Birokrasi
Tugas pokok birokrasi adalah secara profesional
menindaklanjuti keputusan politik yang telah diambil pemerintah. Cabinet yang
terdiri dari para Menteri bukanlah birokrasi, kata Said (2007:6).
Penjelasan UUD 1945 menyebutkan bahwa para Menteri sebagai pemimpin negara.
Birokrasi pemerintahan dewasa ini, di
mana para pejabat memainkan fungsi dan peran dengan menggunakan kekuasaan yaitu: jabatan,
kewenangan dan legitimasi untuk mewujudkan pemerintahan yang efisien dan
efektif, dengan objek pemerintahan masa kini. Di dalam dunia pemerintahan
modern, birokrasi biasanya memainkan peranan yang sangat penting.
- C. Syarat-syarat
kepemimpinan
Syarat-syarat kepemimpinan sangat urgen
diperhatikan, oleh karena merupakan landasan untuk melakukan aktivitas-aktivitas
seorang pemimpin. Jika syarat-syarat untuk menjadi pemimpin terpenuhi, maka
akan melahirkan pemimpin yang berkualitas. Kartono (2005:36-38), mengatakan
bahwa persyaratan kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan tiga hal
penting, yaitu: (1) Kekuasaan, yaitu otoritas dan legalitas yang memberikan kewenangan
kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu, (2) kelebihan,
keunggulan, keutamaan sehingga orang mampu mengatur orang lain, sehingga orang
tersebut patuh pada pemimpin, dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.
(3) kemampuan, yaitu segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan/keterampilan
teknis maupun sosial yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota biasa.
- D. Ciri-ciri
Pemimpin yang Baik
Ciri-ciri pemimpin yang biak dapat ditelusuri
melalui berbagai pendapat para ahli, antara lain: Maxwell (1995:191),
memberikan rujukan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik harus memiliki
ciri-ciri: (1) Pemimpin yang biak mampu menciptakan lingkungan yang tepat.
Carapaling biak untuk memiliki loyalitas personel ialah dengan memperlihatkan
perhatian kepada mereka dengan kata-kata dan perbuatan. (2) Pemimpin yang biak
mengetahui
kebutuhan dasar bawahannya. (3) Pemimpin yang baik mampu mengendalikan
keuangan, personalia, dan perencanaan. (4) Pemimpin yang baik mampu menghindari
tujuh dosa yang mematikan (a) berusaha untuk disukai bukan dihormati, (b) tidak
minta nasihat dan bantuan kepada orang lain, (c) mengesampingkan bakat pribadi
dengan menekan peraturan bukan keahlian, (d) tidak menjaga untuk dikritik tetap
konstruktif, (e) tidak mengembangkan rasa tanggung jawab dalam diri orang lain,
(f) memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama, (g) tidak membuat setiap
orang selalu mendapat informasi.
Bennis & Townsend (1998:31), mengatakan bahwa ciri-ciri pemimpin
yang baik adalah: (1) Pandangan tentang ambisi pribadi yang terkendali, (2)
Inteligensi, (3) Kemampuan untuk mengutarakan diri (komunikasi), yaitu mampu
berbicara dengan jelas sederhana dan mudah dipahami, (4) Kemampuan menjadi
pelayan bagi bawahannya, (5) Jangan memberikan kekuasaan kepada orang yang
terlalu banyak menginginkannya. Karena terlalu banyak menginginkannya biasanya juga menginginkan
semua perangkat yang menyertainya. (6) Objektivitas yang tinggi, dan (7)
Seseorang pemimpin yang tidak pernah mengambil penghargaan.
Panikkan dalam Wirjana (2006:51), mengatakan bahwa kepemimpinan yang baik adalah:
(1) Memberi tekanan/fokus pada masa depan, (2) Menekankan atau fokus pada penentuan arah, (3) Pertanyaan
selalu “apa yang akan terjadi”, (4) Memberi visi dan inspirasi, (5) Memimpin
orang-orang, dan (6) Mengutamakan hierarkhi, menyebar suatu otoritas.
Riset Kousez & Posner dilakukan terhadap ribuan eksekutif swasta dan pemerintah (pemimpin birokrasi). Riset tersebut menunjukkan bahwa para pengikut mengharapkan pemimpin yang mempunyai karakteristik seperti kejujuran, berorientasi ke depan, kompeten, dan membangkitkan semangat pengikut.
Pemimpin Formal dan Informal
Pemimpin formal dan informal Kartono (2005:9),
memberikan rujukan bahwa yang dimaksud pemimpin formal adalah orang yang oleh
organisasi atau Lembaga tertentu ditunjuk sebagai pemimpin, berdasarkan
keputusan dan pengangkatan resmi untuk memangku suatu jabatan dalam struktur
organisasi, dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya, untuk
mencapai sasaran organisasi. Sedangkan ciri-ciri pemimpin formal menurut beliau
adalah: (1) Berstatus sebagai pemimpin formal selama masa jabatan tertentu,
atas dasar legitimasi formal oleh penunjukan pihak yang berwewenang (ada legitimasi),
(2) Sebelum pengangkatannya, dia harus memenuhi beberapa persyaratan formal
terlebih dahulu, (3) Ia diberi dukungan oleh organisasi secara formal untuk
menjalankan tugas kewajibannya. Karena itu dia selalu memiliki/superiors, (4) Dia
mendapatkan balas jasa material dan immatreril tertentu, serta emolumen
(keuntungan ekstra, penghasilan sampingan) lainnya, (5) Dia bisa mencapai
promosi atau kenaikan pangkat formal dan dapat dimutasikan, (6) Apabila dia
melakukan kesalahan-kesalahan dia akan dikenai sanksi dan hukuman, (7) Selama
menjabat pemimpin, dia diberi kekuasaan dan wewenang, antara lain untuk merumuskan
kebijakan, memberikan motivasi kerja kepada bawahan, menggariskan pedoman dan
penunjuk, mengalokasikan jabatan dan penempatan pegawai.
Sedangkan pemimpin informal adalah orang yang
tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin, namun karena ia
memiliki kelebihan seperti kualitas kepribadian, dia mencapai kedudukan sebagai
orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok dalam
masyarakat tertentu. Sedangkan ciri-ciri pemimpin informal antara lain: (1)
Tidak memiliki penunjukan formal atau legitimasi sebagai pemimpin, (2) Kelompok
rakyat atau masyarakat menunjuk dirinya, dan mengakuinya sebagai pemimpin,
status kepemimpinannya berlangsung selama kelompok yang bersangkutan masih
mengakuinya sebagai pemimpin, (3) Dia tidak mendapatkan dukungan dari suatu
organisasi formal dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, (4) Tidak dapat
dimutasikan,, tidak pernah mencapai promosi, dan tidak memiliki atasan. Dia
tidak perlu memenuhi persyaratan formal, (5) Biasanya tidak mendapatkan imbalan
balas jasa, atau imbalan jasa itu diberikan sukarela, (6) Apabila dia melakukan
kesalahan, dia tidak dapat dihukum, hanya saja respek orang terhadap dirinya
jadi berkurang, pribadinya tidak diakui atau ditinggalkan oleh pengikutnya.
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa baik
pemimpin formal dan informal itu dapat menduduki jabatan, kepemimpinannya
disebabkan oleh faktor-faktor dibawah ini: (1) Penunjukan dan penetapan dari
atasan, (2) Karena warisan kedudukan yang berlangsung turun temurun, (3) Karena
dipilih oleh pengikut dan para pendukungnya, (4) Karena pengakuan tidak resmi
dari bawahan, (5) Karena kualitas pribadi yang tinggi, (6) Karena tuntutan
situasi-kondisi atau kebutuhan zaman.
- E. Pentingnya
Kepemimpinan
Kepimpinan dalam suatu organisasi termasuk
birokrasi sangat penting, hal ini dapat dilihat dari beberapa pendapat, antara
lain: Davis (1972:100), menyatakan bahwa tanpa kepemimpinan, suatu
organisasi adalah kumpulan orang-orang dan mesin-mesin yang tidak teratur, kacau
balau. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain untuk mencapai
tujuan dengan antusias. Ini merupakan faktor manusiawi yang mengikat sebagai
suatu
kelompok Bersama dan memotivasi mereka dalam pencapaian tujuan.
Kegiatan-kegiatan manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, dan
pengambilan keputusan merupakan sebuah kepompong yang tidur (tidak aktif)
sampai pemimpin cepat bertindak untuk menghidupkan motivasi dalam setiap orang mengarahkan
mereka mencapai tujuan. Kepemimpinan mengubah sesuatu yang potensial menjadi kenyataan. Ini adalah
kegiatan pokok yang memberikan sukses bagi semua hal yang potensial, yaitu
suatu organisasi dan anggota-anggotanya.
Kartasasmita (1996:3), menyatakan bahwa kepemimipinan sangat penting dan amat menentukan
dalam kehidupan setiap bangsa, karena maju mundurnya masyarakat, jatuh
bangunnya bangsa, ditentukan oleh pemimpinnya. Waluyo (2007:173),
mengatakan bahwa pimpinan merupakan unsur yang paling utama dalam organisasi,
karena baik buruknya perilaku bawahan tergantng pada perilku pemimpin dalam
membina bwahannya. Kemudian Creech (1996:292), mengatakan bahwa tidak
ada kelompok kerja yang jelek, yang ada adalah pemimpin yang jelek. Bennis
& Nanus (1990:5), factor kunci dan utama yang dibutuhkan untuk meningkatkan
kualitas SDM adalah kepemimpinan. “Kunci menuju sukses dalam usaha apa saja
adlaah kemampuan memimpin secara sukses orang lain”. Kata Maxwell (1995:ii)
Selanjutnya kepeminpinan merupakan suatu yang
lebih urgent karena yaitu: (1) tidak ada satu factor pun memberikan lebih
banyak manfaat terhadap organisasi selain dari pada kepemimpinan yang efektif,
pemimpin diperlukan untuk menentukan tujuan, mengalokasikan sumber daya, memfokuskan
kepada perhatian pada tujuan, mengkorrdinasikan perubaha, membina hbungan
dengan pengikutnya, (2) Bukti lain yang dapat dipetik pentingnya kepemimpinan
adalah mengapa suatu organisasi Ketika dipimpin oleh pemimpin tertentu cukup
berhasil, namun Ketika diganti pemimpin lain tidak berhasil meningkatkan
kinerja organisasi. (3) Biaya untuk memilih pemimpin sangat mahal.
Oleh karena itu, kepemimpinan snagat diperlukan bila suatu organisasi ingin sukses. Terbitlah lagi pegawai-pegawai yang baik, selalu ingin bagaimana mereka dapat memberikan kontribusi dalam pencapapian tujuan birokrasi, untuk membangkitkan gairah para pegawai memerlukan kepemimpinan sebagai dasar motivasi eksternal untuk menjaga tujuan-tujuan mereka tetap harmonis dengan tujuan birokrasi. Jadi birokrasi yang berhasil memiliki satu sifat umum yang menyebabkan birokrasi tersebut dapat dibedakan dengan birokrasi lain yang tidak berhasil. Sifat dan ciri umum tertsebut adalah kepemimpinan dalam birokrasi itu sendiri.


Komentar
Posting Komentar