BAB I PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN


A.    PENDAHULUAN
Konsep kepemimpinan pada dasarnya berasal dari kata “pimpin” yang artinya Bombing atau tuntun,. Dari kata “pimpin” melahirkan kata kerja “memimpin” yang artinya membimbing atau menuntun dan kata benda “pemimpin” yaitu orang yang berfungsi memimpin, atau orang yang membimbing  atau menuntun. Sedangkan kepemimpinan yaitu kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan. Di dalam kehidupan sehari-hari dan berbagai literatur yang membahas kepemimpinan muncul istilah yang hampir sama dengan hal tersebut dan kadang-kadang dipergunakan silih berganti seolah-olah tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya, yaitu “pimpinan” dan “pemimpin”. Hal yang demikian ini dapat berdampak kepada kesalahan berpikir. Kesalahan berpikir dapat berdampak kepada “kesalahan bertindak”, dan kesalahan bertindak akan berdampak kepada kekacauan masyarakat dan pada akhirnya melahirkan kekacauan dalam bernegara. Oleh karena itu perlu dikemukakan beberapa pengertian kedua konsep tersebut untuk menyamakan persepsi dan interpretasi.

Kepemimpinan dalam birokrasi untuk merupakan sesuatu yang sangat berhasil tidaknya birokrasi. Karena pemimpin yang bertanggungjawab untuk mengkoordinir dan mengorganisir sumber daya birokrasi sehingga  bisa menjadi satu kesatuan yang utuh dan selaras satu sama lain. Coutoris menyatakan bahwa kelompok atau birokrasi tanpa pimpinan seperti tubuh tanpa kepala, mudah tersesat, kacau anarki. Kemudian Yung berpendapat bahwa Sebagian besar umat manusia memerlukan pemimpin, bahkan mereka tidak menghendaki yang lain dari pada pemimpin. Oleh karena itu , birokrasi sangat membutuhkan pemimpin yang vionir, yaitu pemimpin yang mempunyai visi serta pemimpin yang mau melayani bukan dilayani.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka kepemimpinan dalam suatu birokrasi sangat penting, oleh karena pemimpinlah yang dapat membuat keputusan, memotivasi bawahan melaksanakan keputusan yang telah dibuat, dan pemimpinlah juga yang mengawasi pelaksanaan keputusan tersebut agar dapat tercapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, tidak terlalu berlebihan jika penulis ingin menulis tentang “kepemimpinan birokrasi”. Dengan harapan bahwa para pemimpin birokrasi dapat memahami dan menggunakan konsep atau teori-teori kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

  • B.     Beberapa Pengertian Pokok

1.      Definisi Pemimpin
konsep “pemimpin” berasal dari kata asing “leader” dan “kepemimpinan” dari “leadership”. Bennis (1998:71), mengatakan bahwa pemimpin adalah orang yang paling berorientasi hasil di dunia, dan kepastian dengan hasil ini hanya positif kalau seseorang mengetahui apa yang diinginkannya. Fairchild (1960), pemimpin dalam arti yang luas adalah “seseorang yang memimpin, dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisasikan atau mengontrol usaha (upaya) orang lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi”. Kouzes (2004:17), mengatakan bahwa pemimpin adalah vionir sebagai orang yang bersedia melangkah ke dalam situasi yang tidak diketahui. Pemimpin yang mempunyai visi yang jelas dapat menjadi penuntun dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin. Kartono (2005:51), menyatakan pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain melakukan usaha bersama guna mencapai sasaran tertentu. Rivai (2004:65), menyatakan pemimpin adalah anggota dari suatu kumpulan yang diberi kedudukan tertentu dan diharapkan dapat bertindak sesuai kedudukannya. Jadi pemimpin adalah juga seseorang dalam suatu perkumpulan yang diharapkan dapat menggunakan pengaruhnya untuk mewujudkan dan mencapai tujuan kelompok. Sudriamunawar  (2006:1), pemimpin adalah seseorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan kerja sama ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Raven dalam Wirjana (2006:4), mengatakan bahwa pemimpin adalah “seorang yang menduduki suatu posisi di kelompok, mempengaruhi orang-orang dalam kelompok itu sesuai dengan ekspektasi peran dan posisi tersebut, dan mengkoordinasi serta mengarahkan kelompok untuk mempertahankan

diri serta mencapai tujuannya”. Syafi’ie (2003:1), menyatakan bahwa  pemimpin adalah orang yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Nawawi (2004:9), mengatakan bahwa pemimpin adalah orang yang memimpin, sedangkan pengertian pemimpin yang paling baru sebagai post modern dari Lantu (2007:29), menyatakan bahwa pemimpin adalah pelayan. Definisi yang terakhir ini sangat menarik karena yang terjadi selama ini adalah pemimpin yang dilayani, bukan melayani?. Intinya pemimpin adalah orang yang mempunyai pengikut atau pendukung karena kapasitasnya.

Perbedaan pemimpin dan pimpinan

        perbedaan “pemimpin” dan “pimpinan” dapat ditelusuri melalui pendapat para pakar antara lain: menurut Rukmana (2007), pejabat sudah pasti pimpinan, tapi belum tentu dapat berperan sebagai pemimpin. Dari berbagai literatur tentang kepemimpinan dapat dipahami bahwa pemimpin (leader) adalah orang yang melakukan atau menjalankan kepemimpinan (leadership). Sedangkan pimpinan adalah mencerminkan kedudukan seseorang atau sekelompok orang pada hierarkhi tertentu dalam suatu birokrasi formal maupun informal. Pimpinan birokrasi tentu saja mempunyai bawahan, yang karena kedudukannya sebagai pimpinan yaitu mempunyai kekuasaan formal (wewenang/authority) dan tanggung jawab (akuntabilitas).

        Dari berbagai definisi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pemimpin dan pimpinan. Adapun berbedaan keduanya yaitu: pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. Sedangkan “pimpinan adalah orang yang menduduki jabatan dalam suatu organisasi atau birokrasi”.

2.      Definisi Kepemimpinan

Definisi kepemimpinan telah dikemukakan oleh berbagai literatur kepemimpinan, namun definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, berbeda-beda tergantung dari perspektif unit analisis masing-masing. Untuk memudahkan memahami pendapat para ahli tersebut, mak akan dikemukakan pendapat sebagai berikut. Robbins (2006:432), menyatakan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran. Maxwell (1995:1), kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh pengikut. Lebih jauh Maxwell menjelaskan bahwa pemimpin terkemuka suatu kelompok tertentu mudah ditemukan, perhatikan saja orang-orang Ketika mereka berkumpul . kalau suatu persoalan harus diputuskan, siapa orang yang padangannya tampak paling berharga, siapa yang paling diperhatikan, Ketika persoalan dibicarakan? Siapa orang yang paling cepat disetujui oleh orang-orang lainnya?, yang paling penting, siapa yang paling diikuti oleh orang lainnya? Jawaban terhadap semua pertanyaan itu akan membantu untuk menentukan siapa pemimpin yang sesungguhnya dalam suatu kelompok tertentu. Bahkan pengaruh menurut Maxwell merupakan investasi yang paling baik untuk masa depan. Gibson dkk (1997:5), mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu usaha menggunakan suatu gaya mempengaruhi dan tidak memaksa untuk memotivasi individu dalam mencapai tujuan. Definisi Gibson mengisyaratkan bahwa kepemimpinan melibatkan penggunaan pengaruh dan semua hubungan dapat melibatkan kepemimpinan. Stoner (1996:161), mengatakan kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok. Keating (1986:9), mengatakan kepemimpinan adalah merupakan suatu proses atau sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan Bersama. Yukl (1994:4), mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi, yang mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa bagi para pengikut, pilihan dari sasaran-sasaran bagi kelompok atau birokrasi, pengorganisasian dari aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, motivasi dari para pengikut untuk mencapai sasaran, pemeliharaan hubungan kerja sama dan teamwork, seta perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang yang berada di luar kelompok atau birokrasi. Kouzes & Posner (2004:3), mengatakan kepemimpinan adalah penciptaan cara bagi orang untuk ikut berkontribusi dalam mewujudkan sesuatu yang luar biasa. Boone & kurtz (1984), yang mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah Tindakan memotivasi orang lain atau menyebabkan orang lain melakukan tugas tertentu dengan tujuan untuk mencapai tujuan spesifik. Sedangkan Tzu & Cleary (2002:5), berpendapat lain tentang kepemimpinan adalah sebuah persoalan kecerdasan kelayakan untuk dipercaya, kelembutan, keberanian, dan ketegasan. Selanjutnya kepemimpinan menurut Nawawi (2004:9), adalah kemampuan atau kecerdasan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih ) agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan Bersama. Kartono (2005:153), menyatakan kepemimpinan adalah “kemampuan untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain untuk melakukan satu usaha kooperatif mencapai tujuan yang sudah direncanakan”. Rivai (2004:65), menyatakan Kepemimpinan adalah peranan dan juga suatu proses untuk mempengaruhi orang lain.

Dalam menjelaskan konsep pemimpin dan kepemimpinan , maka perlu pula memberikan definisi konsep-konsep yang erat kaitannya dengan kepemimpinan sebagai berikut, yaitu (1) Kredibilitas adalah fondasi kepemimpinan Kouzes (2004:25), menurut Kouzes tanpa kredibilitas anda tidak dapat menjadi pemimpin, karena dengan kredibilitas para pemimpin mendapatkan kepercayaan dan keyakinan. Kredibilitas berakar dari masa lalu dan berhubungan dengan reputasi. Sedangkan yang dimaksud reputasi menurut Kouzes adalah jaminan manusia karena masa lalunya yang baik. (2) Integritas menurut Maxwell (1995:37), adalah faktor kepemimpinan yang paling penting. Maxwell menyatakan bahwa dengan integritas kepemimpinan menjadi lengkap, merupakan kesatuan dari perkataan dengan perbuatan. Integritas adalah apa diri kita yang sesungguhnya, atau dengan kata lain integritas bukan apa yang kita lakukan tetapi lebih banyak siapa diri kita, karena dengan integritas dapat membangun kepercayaan. (3) Kedudukan menurut Tulus (1995:24), adalah sekumpulan tugas, tanggung jawab dan wewenang seseorang. (4) Jabatan adalah pekerjaan yang telah melembaga dalam suatu instansi atau telah membudaya dalam masyarakat, jabatan mencakup tanggung jawab dan wewenang. (5) Wewenang (authority) menurut Stoner (1996:41), adalah suatu bentuk kekuasaan, sering kali dipergunakan secara lebih luas untuk menunjuk kemampuan manusia menggunakan kekuasaan sebagai hasil dari ciri-ciri seperti pengetahuan atau gelar. (6) Tanggung Jawab adalah hal yang menjadi keharusan pemegang jawaban untuk: (1) menerima diri sebagai penyebab utama mengenai suatu kejadian, baik atau buruk, benar atau salah. (2) menerima diri untuk dibenarkan atau disalahkan mengenai suatu kejadian. (3) menerima hukuman jika salah melakukan sesuatu, (4) memberi jawaban dan penjelasan dalam hal tertentu. (7) Kewibawaan  adalah berbagai kelebihan yang dimiliki oleh seseorang sehingga orang lain dapat mematuhi kehendaknya tanpa tekanan dalam melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan. (8) Kemampuan adalah totalitas kekuatan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan. (9) Pengaruh (influence) menurut Stoner (1996:161), adalah Tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang atau kelompok lain.

Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang sukses memimpin dirinya sendiri. Tapi kunci menuju sukses dalam memimpin birokrasi adalah kemampuan memimpin bawahan secara sukses. Salah satu caranya adalah ikuti kata-kata Filsuf Iran Saadi, mengatakan bahwa berikanlah kata-kata manis orang lain. “Karena dengan kata-kata manis dan keramahtamahan kita bisa menuntun gajah dengan sehelai rambut”.

3.      Definisi birokrasi

Blau (2004:4), menyatakan birokrasi adalah tipe organisasi yang dirancang untuk menyelesaikan tugas-tugas administratif dalam skala besar dengan cara mengkoordinasi pekerjaan banyak orang secara sistematis. Sinambela (2006:70), mengatakan bahwa birokrasi adalah organisasi yang ditujukan untuk memaksimumkan efisiensi dalam administrasi. Setiyono (2004:9), mengatakan bahwa birokrasi adalah merupakan sebuah ruang mesin negara. Di dalam berisi orang-orang (pejabat) yang digaji dan dipekerjakan oleh negara untuk memberikan nasehat dan melaksanakan kebijakan politik negara.

        Kristiadi (1994:93), mengatakan bahwa birokrasi adalah merupakan struktur organisasi di sektor pemerintah, yang memiliki ruang lingkup tugas-tugas sangat luas serta memerlukan organisasi besar dengan sumber daya manusia yang besar pula jumlahnya. Birokrasi yang dimaksudkan untuk penyelenggaraan bernegara, penyelenggaraan pemerintahan termasuk di dalamnya penyelenggaraan pelayanan umum dan pembangunan, seringkali oleh masyarakat diartikan dalam konotasi yang berbeda.

Tugas pokok Birokrasi

        Tugas pokok birokrasi adalah secara profesional menindaklanjuti keputusan politik yang telah diambil pemerintah. Cabinet yang terdiri dari para Menteri bukanlah birokrasi, kata Said (2007:6). Penjelasan UUD 1945 menyebutkan bahwa para Menteri sebagai pemimpin negara.

        Birokrasi pemerintahan dewasa ini, di mana para pejabat memainkan fungsi dan peran dengan menggunakan kekuasaan yaitu: jabatan, kewenangan dan legitimasi untuk mewujudkan pemerintahan yang efisien dan efektif, dengan objek pemerintahan masa kini. Di dalam dunia pemerintahan modern, birokrasi biasanya memainkan peranan yang sangat penting.

  • C.    Syarat-syarat kepemimpinan

Syarat-syarat kepemimpinan sangat urgen diperhatikan, oleh karena merupakan landasan untuk melakukan aktivitas-aktivitas seorang pemimpin. Jika syarat-syarat untuk menjadi pemimpin terpenuhi, maka akan melahirkan pemimpin yang berkualitas. Kartono (2005:36-38), mengatakan bahwa persyaratan kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu: (1) Kekuasaan, yaitu otoritas dan legalitas yang memberikan kewenangan kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan bawahan  untuk berbuat sesuatu, (2) kelebihan, keunggulan, keutamaan sehingga orang mampu mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh pada pemimpin, dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. (3) kemampuan, yaitu segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan/keterampilan teknis maupun sosial yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota biasa.

  • D.  Ciri-ciri Pemimpin yang Baik

Ciri-ciri pemimpin yang biak dapat ditelusuri melalui berbagai pendapat para ahli, antara lain: Maxwell (1995:191), memberikan rujukan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik harus memiliki ciri-ciri: (1) Pemimpin yang biak mampu menciptakan lingkungan yang tepat. Carapaling biak untuk memiliki loyalitas personel ialah dengan memperlihatkan perhatian kepada mereka dengan kata-kata dan perbuatan. (2) Pemimpin yang biak mengetahui kebutuhan dasar bawahannya. (3) Pemimpin yang baik mampu mengendalikan keuangan, personalia, dan perencanaan. (4) Pemimpin yang baik mampu menghindari tujuh dosa yang mematikan (a) berusaha untuk disukai bukan dihormati, (b) tidak minta nasihat dan bantuan kepada orang lain, (c) mengesampingkan bakat pribadi dengan menekan peraturan bukan keahlian, (d) tidak menjaga untuk dikritik tetap konstruktif, (e) tidak mengembangkan rasa tanggung jawab dalam diri orang lain, (f) memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama, (g) tidak membuat setiap orang selalu mendapat informasi.

Bennis & Townsend (1998:31), mengatakan bahwa ciri-ciri pemimpin yang baik adalah: (1) Pandangan tentang ambisi pribadi yang terkendali, (2) Inteligensi, (3) Kemampuan untuk mengutarakan diri (komunikasi), yaitu mampu berbicara dengan jelas sederhana dan mudah dipahami, (4) Kemampuan menjadi pelayan bagi bawahannya, (5) Jangan memberikan kekuasaan kepada orang yang terlalu banyak menginginkannya. Karena terlalu banyak menginginkannya biasanya juga menginginkan semua perangkat yang menyertainya. (6) Objektivitas yang tinggi, dan (7) Seseorang pemimpin yang tidak pernah mengambil penghargaan.

Panikkan dalam Wirjana (2006:51), mengatakan bahwa kepemimpinan yang baik adalah: (1) Memberi tekanan/fokus pada masa depan, (2) Menekankan atau fokus pada penentuan arah, (3) Pertanyaan selalu “apa yang akan terjadi”, (4) Memberi visi dan inspirasi, (5) Memimpin orang-orang, dan (6) Mengutamakan hierarkhi, menyebar suatu otoritas.

Riset Kousez & Posner  dilakukan terhadap ribuan eksekutif swasta dan pemerintah (pemimpin birokrasi). Riset tersebut menunjukkan bahwa para pengikut mengharapkan pemimpin yang mempunyai karakteristik seperti kejujuran, berorientasi ke depan, kompeten, dan membangkitkan semangat pengikut.


Pemimpin Formal dan Informal

Pemimpin formal dan informal Kartono (2005:9), memberikan rujukan bahwa yang dimaksud pemimpin formal adalah orang yang oleh organisasi atau Lembaga tertentu ditunjuk sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk memangku suatu jabatan dalam struktur organisasi, dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya, untuk mencapai sasaran organisasi. Sedangkan ciri-ciri pemimpin formal menurut beliau adalah: (1) Berstatus sebagai pemimpin formal selama masa jabatan tertentu, atas dasar legitimasi formal oleh penunjukan pihak yang berwewenang (ada legitimasi), (2) Sebelum pengangkatannya, dia harus memenuhi beberapa persyaratan formal terlebih dahulu, (3) Ia diberi dukungan oleh organisasi secara formal untuk menjalankan tugas kewajibannya. Karena itu dia selalu memiliki/superiors, (4) Dia mendapatkan balas jasa material dan immatreril tertentu, serta emolumen (keuntungan ekstra, penghasilan sampingan) lainnya, (5) Dia bisa mencapai promosi atau kenaikan pangkat formal dan dapat dimutasikan, (6) Apabila dia melakukan kesalahan-kesalahan dia akan dikenai sanksi dan hukuman, (7) Selama menjabat pemimpin, dia diberi kekuasaan dan wewenang, antara lain untuk merumuskan kebijakan, memberikan motivasi kerja kepada bawahan, menggariskan pedoman dan penunjuk, mengalokasikan jabatan dan penempatan pegawai.

Sedangkan pemimpin informal adalah orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin, namun karena ia memiliki kelebihan seperti kualitas kepribadian, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok dalam masyarakat tertentu. Sedangkan ciri-ciri pemimpin informal antara lain: (1) Tidak memiliki penunjukan formal atau legitimasi sebagai pemimpin, (2) Kelompok rakyat atau masyarakat menunjuk dirinya, dan mengakuinya sebagai pemimpin, status kepemimpinannya berlangsung selama kelompok yang bersangkutan masih mengakuinya sebagai pemimpin, (3) Dia tidak mendapatkan dukungan dari suatu organisasi formal dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, (4) Tidak dapat dimutasikan,, tidak pernah mencapai promosi, dan tidak memiliki atasan. Dia tidak perlu memenuhi persyaratan formal, (5) Biasanya tidak mendapatkan imbalan balas jasa, atau imbalan jasa itu diberikan sukarela, (6) Apabila dia melakukan kesalahan, dia tidak dapat dihukum, hanya saja respek orang terhadap dirinya jadi berkurang, pribadinya tidak diakui atau ditinggalkan oleh pengikutnya.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa baik pemimpin formal dan informal itu dapat menduduki jabatan, kepemimpinannya disebabkan oleh faktor-faktor dibawah ini: (1) Penunjukan dan penetapan dari atasan, (2) Karena warisan kedudukan yang berlangsung turun temurun, (3) Karena dipilih oleh pengikut dan para pendukungnya, (4) Karena pengakuan tidak resmi dari bawahan, (5) Karena kualitas pribadi yang tinggi, (6) Karena tuntutan situasi-kondisi atau kebutuhan zaman.

  • E.   Pentingnya Kepemimpinan

Kepimpinan dalam suatu organisasi termasuk birokrasi sangat penting, hal ini dapat dilihat dari beberapa pendapat, antara lain: Davis (1972:100), menyatakan bahwa tanpa kepemimpinan, suatu organisasi adalah kumpulan orang-orang dan mesin-mesin yang tidak teratur, kacau balau. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain untuk mencapai tujuan dengan antusias. Ini merupakan faktor manusiawi yang mengikat sebagai suatu kelompok Bersama dan memotivasi mereka dalam pencapaian tujuan. Kegiatan-kegiatan manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, dan pengambilan keputusan merupakan sebuah kepompong yang tidur (tidak aktif) sampai pemimpin cepat bertindak untuk menghidupkan motivasi dalam setiap orang mengarahkan mereka mencapai tujuan. Kepemimpinan mengubah sesuatu yang potensial menjadi kenyataan. Ini adalah kegiatan pokok yang memberikan sukses bagi semua hal yang potensial, yaitu suatu organisasi dan anggota-anggotanya.

Kartasasmita (1996:3), menyatakan bahwa kepemimipinan sangat penting dan amat menentukan dalam kehidupan setiap bangsa, karena maju mundurnya masyarakat, jatuh bangunnya bangsa, ditentukan oleh pemimpinnya. Waluyo (2007:173), mengatakan bahwa pimpinan merupakan unsur yang paling utama dalam organisasi, karena baik buruknya perilaku bawahan tergantng pada perilku pemimpin dalam membina bwahannya. Kemudian Creech (1996:292), mengatakan bahwa tidak ada kelompok kerja yang jelek, yang ada adalah pemimpin yang jelek. Bennis & Nanus (1990:5), factor kunci dan utama yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah kepemimpinan. “Kunci menuju sukses dalam usaha apa saja adlaah kemampuan memimpin secara sukses orang lain”. Kata Maxwell (1995:ii)

Selanjutnya kepeminpinan merupakan suatu yang lebih urgent karena yaitu: (1) tidak ada satu factor pun memberikan lebih banyak manfaat terhadap organisasi selain dari pada kepemimpinan yang efektif, pemimpin diperlukan untuk menentukan tujuan, mengalokasikan sumber daya, memfokuskan kepada perhatian pada tujuan, mengkorrdinasikan perubaha, membina hbungan dengan pengikutnya, (2) Bukti lain yang dapat dipetik pentingnya kepemimpinan adalah mengapa suatu organisasi Ketika dipimpin oleh pemimpin tertentu cukup berhasil, namun Ketika diganti pemimpin lain tidak berhasil meningkatkan kinerja organisasi. (3) Biaya untuk memilih pemimpin sangat mahal.

Oleh karena itu, kepemimpinan snagat diperlukan bila suatu organisasi ingin sukses. Terbitlah lagi pegawai-pegawai yang baik, selalu ingin bagaimana mereka dapat memberikan kontribusi dalam pencapapian tujuan birokrasi, untuk membangkitkan gairah para pegawai memerlukan kepemimpinan sebagai dasar motivasi eksternal untuk menjaga tujuan-tujuan mereka tetap harmonis dengan tujuan birokrasi. Jadi birokrasi yang berhasil memiliki satu sifat umum yang menyebabkan birokrasi tersebut dapat dibedakan dengan birokrasi lain yang tidak berhasil. Sifat dan ciri umum tertsebut adalah kepemimpinan dalam birokrasi itu sendiri. 





Komentar